JABAR EKSPRES – Pengrajin Tahu Tempe di Indonesia dalam beberapa hari ke depan diprediksi akan terganggu dengan peningkatan Harga kedelai impor.
Hal ini terjadi seiring masih panasnya perseteruan perang Iran, Amerika dan Israel yang mengakibatkan kondisi perekonomian global terkena dampak akibat dari melonjaknya harga minyak dunia.
Harga Kedelai Impor Naik Tipis
Sekretaris Jenderal Gakoptindo Wibowo Nur Cahyo mengatakan, meski ada kenaikan, harga kedelai impor yang biasanya dari Amerika masih relatif aman.
Baca Juga:Harga Kedelai Impor Mulai Merangkak Naik Imbas dari Perang IranDaftar 13 Aplikasi Penghasil Saldo Dana Gratis 2026, Resmi dan Terbukti Bayar!
Menurutnya, harga kedelai impor tingkat koperasi masih berkisar Rp9.700 sampai dengan Rp12.000 per kg.
‘’Sementara harga di Jawa Barat berkisar Rp10.100-Rp10.400 per kg, sementara di Jakarta mencapai Rp10.400-Rp10.700 per kg jadi masih terbilang stabil,’’ ujar Wibowo dalam keterangannya belum lama ini.
‘’Sementara itu, untuk wilayah Sumatra, harga kedelai impor mencapai Rp12.000 per Kg,’’ tambah dia lagi.
Khawatir Konflik Terus Berlanjut
Meski begitu, Wibowo khawatir jika konflik ini masih berlanjut, situasi akan makin sulit dan khawatir kenaikan harga kedelai akan terus terjadi secara bertahap.
Kondisi kedelai impor saat ini masih belum mengalami kenaikan signifikan karena Kedelai asal amerika tengah mengalami surplus produksi.
Kenaikan tipis terjadi karena ada lonjakan pembelian kedelai Amerika oleh negara China yang memborong kedelai sampai 2 juta ton.
Akan tetapi, aksi China tersebut tidak menganggu pasokan. Sebab produksi kedelai Amerika masih melimpah dan mengalami overstok.
Baca Juga:Kebakaran Pabrik Mebel di Cimahi, Kerugian Capai Rp1,8 MiliarBuntut Viral Joget di Dapur MBG, BGN Suspend Satuan Pelayanan dan Tegur Keras Mitra Pemilik Tujuh Titik SPPG
China Borong Kedelai 2 Juta Ton
World Gain mencatat, impor kedelai China pada 2026-2027 mencapai 108 juta ton. Kenaikan ini terjadi karena untuk kebutuhan pakan ternak.
China melakukan aksi impor kedelai ini setelah ada kesepakatan dagang antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada Oktober 2025.
Hingga 26 Februari 2026, realisasi pembelian telah mencapai 10,8 juta ton dari total komitmen 12 juta ton.
Berdampak Peningkatan Biaya Logistik
Wibowo memastikan faktor utama kenaikan harga justru terjadi karena konflik global yang berdampak pada kenaikan dollar dan permintaan kedelai yang tinggi.
Wibowo menilai. Situasi geopolitik konflik Timur Tengah bisa mendorong kenaikan biaya logistik yang berdampak pada berbagai sektor.
