JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengevaluasi tata kelola Kebun Binatang Bandung, setelah dua anak harimau berusia 8 bulan dilaporkan mati akibat infeksi virus Feline Panleukopenia.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan kedua anak harimau terinfeksi virus yang berkembang cepat dalam sepekan terakhir dan bersifat akut.
“Ini sangat memprihatinkan dan menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Meski panleukopenia tergolong virus yang umum, namun ketika menyerang kucing besar usia muda, tingkat fatalitasnya sangat tinggi,” kata Farhan di Kebun Binatang Bandung, Kamis (26/3).
Baca Juga:Puncak Diserbu! Volume Kendaraan Naik 70%, Jalur Puncak-Cianjur Padat MerayapLebaran Jadi Momen Harapan Baru, 452 Warga Binaan Lapas Garut Dapat Remisi, 2 Langsung Bebas!
Farhan menegaskan, langkah cepat kini difokuskan pada penguatan sistem biosekuriti di kawasan kebun binatang. Menurut dia, lokasi kebun binatang yang berdekatan dengan permukiman warga serta tingginya mobilitas pengunjung membuat pengamanan kesehatan satwa menjadi prioritas.
Selain itu, Pemkot Bandung akan menggandeng Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Kehutanan, untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola kebun binatang.
“Kasus ini harus menjadi titik balik untuk memperbaiki sistem pengelolaan secara total,” ujarnya.
Sebagai lembaga konservasi, kebun binatang tetap dituntut menjalankan fungsi menjaga keberlangsungan reproduksi satwa langka. Farhan menyatakan program penangkaran tidak boleh berhenti dan akan dikembangkan hingga tahap pelepasliaran.
Dia juga menyoroti, pentingnya pengembangbiakan satwa endemik Jawa Barat sebagai bagian dari pelestarian keanekaragaman hayati daerah.
Dalam satu bulan ke depan, Pemkot Bandung menargetkan pembenahan tata kelola selesai. Pemerintah juga akan menunjuk lembaga konservasi berbadan hukum sebagai mitra resmi dalam pengelolaan kebun binatang.
Farhan menambahkan, Kebun Binatang Bandung memiliki rekam jejak reproduksi yang baik, salah satunya kelahiran harimau betina Donggala pada 2019 dari induk pejantan Sahrulkan.
Baca Juga:Pemudik Asal Bandung Meninggal Saat Singgah di Rumah Makan SumedangH+2 Lebaran, Jalur Puncak Bogor–Cianjur Terapkan One Way Akibat Lonjakan Kendaraan
“Ini membuktikan bahwa kita punya kemampuan dalam penangkaran. Kehilangan dua anakan harimau ini menjadi pukulan berat, tapi juga momentum untuk berbenah,” katanya.
Dia memastikan prosedur vaksinasi dan standar perawatan satwa telah dijalankan sesuai ketentuan, baik sebelum maupun setelah pengelolaan diambil alih pemerintah. Proses transisi juga dilakukan dengan transfer informasi yang lengkap.
