JABAR EKSPRES – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangganya di kawasan Timur Tengah serta berjanji tidak akan lagi melancarkan serangan terhadap mereka. Pernyataan itu disampaikan Trump setelah Iran menghadapi serangkaian serangan dari Amerika Serikat dan Israel.
Melalui akun media sosialnya di Truth Social pada Sabtu (7/3), Trump mengatakan bahwa Iran yang sedang mendapat tekanan berat akhirnya mengakui kekalahan dan meminta maaf kepada negara-negara di sekitarnya.
Trump bahkan menyebut situasi tersebut sebagai pertama kalinya dalam sejarah panjang Iran negara itu mengalami kekalahan dari negara-negara di kawasan Timur Tengah. Ia mengklaim bahwa beberapa pihak di kawasan tersebut mengucapkan terima kasih kepadanya atas situasi tersebut.
Baca Juga:Irlandia Kritik Serangan AS dan Israel ke Iran karena Dinilai Tanpa Mandat PBBPM Spanyol Tolak Eskalasi Perang di Timur Tengah dan Serukan Gencatan Senjata
Menurut Trump, Iran kini tidak lagi memiliki kekuatan untuk bertindak sebagai “perundung” di kawasan Timur Tengah. Ia juga menilai negara tersebut telah berada dalam posisi lemah dan akan tetap demikian selama bertahun-tahun hingga akhirnya menyerah sepenuhnya.
Di sisi lain, laporan dari RIA Novosti menyebut Trump juga mengisyaratkan rencana serangan besar pada Sabtu. Ia bahkan mengancam akan memperluas target serangan, termasuk wilayah dan kelompok yang sebelumnya tidak menjadi sasaran operasi militer.
Trump menegaskan bahwa Iran akan menghadapi serangan yang jauh lebih keras. Ia menyebut sejumlah wilayah dan kelompok yang sebelumnya tidak dipertimbangkan sebagai target kini sedang dikaji untuk dihancurkan sepenuhnya.
Sampai berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran maupun negara-negara Teluk terkait klaim Trump mengenai permintaan maaf tersebut.
Namun sebelumnya, Perwakilan Tetap Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menegaskan bahwa Iran akan terus mempertahankan diri hingga serangan dari Amerika Serikat dan Israel dihentikan.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah sendiri meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran sejak 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 900 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sedikitnya 165 siswi sekolah.
Sebagai balasan, Iran kemudian meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan sejumlah lokasi yang berkaitan dengan Amerika Serikat di negara-negara kawasan Teluk.*
