Irlandia Kritik Serangan AS dan Israel ke Iran karena Dinilai Tanpa Mandat PBB

Irlandia Kritik Serangan AS dan Israel ke Iran karena Dinilai Tanpa Mandat PBB
Warga berdemonstrasi menentang serangan militer AS dan Israel terhadap Iran di Teheran, Iran, pada 4 Maret 2026. (SUMBER FOTO: ANTARA/Xinhua/Shadati)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Menteri Luar Negeri Irlandia, Helen McEntee, menyatakan bahwa pemerintahnya menolak serangan militer yang dilakukan bersama oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran karena tidak memiliki mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dalam pernyataannya di parlemen pada Kamis (5/3), McEntee menegaskan bahwa operasi militer yang sedang berlangsung tidak memperoleh persetujuan maupun otorisasi dari PBB. Ia juga menambahkan bahwa tidak ada upaya dari pihak yang terlibat untuk meminta persetujuan tersebut sebelum melancarkan serangan.

“Posisi saya dan posisi pemerintah jelas — operasi militer Amerika Serikat dan Israel saat ini tidak memiliki mandat atau otorisasi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan tidak ada upaya untuk meminta otorisasi tersebut,” ujarnya.

Baca Juga:PM Spanyol Tolak Eskalasi Perang di Timur Tengah dan Serukan Gencatan SenjataCavaliers Tundukkan Pistons 113-109, Jaylon Tyson Bersinar di Tengah Absennya Donovan Mitchell

Menurut McEntee, sikap Irlandia terhadap penggunaan kekuatan militer tanpa kerangka hukum internasional sudah lama ditegaskan dan dikenal secara luas. Pemerintah Irlandia secara konsisten menolak tindakan militer yang tidak didukung oleh mandat resmi dari PBB.

Ia juga menekankan bahwa seluruh negara di dunia harus tetap menghormati hukum internasional serta menjalankan prinsip-prinsip yang tertuang dalam Piagam PBB. Bagi Irlandia, keberadaan sistem PBB memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas dan keamanan global, terutama bagi negara-negara yang memiliki kekuatan militer terbatas.

McEntee menilai bahwa mekanisme yang dibangun oleh PBB menjadi jaminan penting bagi negara kecil seperti Irlandia untuk mendapatkan perlindungan dalam tatanan internasional yang berbasis aturan.

Sebelumnya, pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah lokasi di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan pada beberapa fasilitas serta menimbulkan korban di kalangan warga sipil.

Menanggapi aksi tersebut, Iran kemudian melakukan serangan balasan dengan meluncurkan rudal yang menyasar wilayah Israel serta beberapa fasilitas militer milik Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan antara negara-negara tersebut terjadi di tengah upaya diplomasi terkait program nuklir Iran. Saat serangan berlangsung, perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat sedang berlangsung dengan mediasi dari Oman.

Pembicaraan tersebut digelar di Jenewa, Swiss, dengan tujuan mencari solusi diplomatik terhadap isu nuklir Iran serta meredakan ketegangan yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah.*

0 Komentar