DPR Tekankan Penguatan Produksi Pangan Bergizi Melalui Peternakan Desa

DPR Tekankan Penguatan Produksi Pangan Bergizi Melalui Peternakan Desa
Anggota Komisi IV DPR RI, Dadang M. Naser saat ditemui, Jumat (6/3/2026). Foto Agni Ilman Darmawan
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Penguatan ketersediaan pangan bergizi dinilai perlu dimulai dari desa dengan memaksimalkan potensi peternakan sapi perah dan pengembangan tanaman pakan ternak.

Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan produksi susu nasional yang hingga kini masih terbatas.

Anggota Komisi IV DPR RI, Dadang M. Naser, menilai konsumsi susu masyarakat Indonesia belum dapat terpenuhi secara optimal karena produksi dalam negeri masih rendah. Ia mengatakan idealnya susu dapat menjadi bagian dari konsumsi harian masyarakat.

Baca Juga:Tekanan Psikologis Pelajar Meningkat di Era Digital, Pemkot Bandung Siapkan Kebijakan Berbasis RisetAntisipasi Kemacetan Mudik, Dishub Kabupaten Bandung Barat Terjunkan 120 Personel

“Susu seharusnya mudah diakses masyarakat setiap hari, tetapi produksi kita saat ini belum mencukupi kebutuhan tersebut,” kata Dadang, Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, pengembangan peternakan sapi perah harus dibarengi dengan penyediaan pakan ternak yang cukup. Tanpa ketersediaan hijauan pakan, upaya meningkatkan populasi sapi perah akan menghadapi kendala.

Karena itu, ia mendorong pemanfaatan lahan hutan produksi melalui pola agroforestri. Sistem ini memungkinkan masyarakat mengembangkan berbagai komoditas pertanian tanpa mengabaikan fungsi kelestarian hutan.

Dalam praktiknya, tanaman tahunan seperti kopi atau buah-buahan dapat ditanam sebagai komoditas utama, sementara tanaman lain seperti jagung, sorgum, dan indigofera dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak.

Selain itu, berbagai tanaman hijauan seperti daun kelor, nangka, dan sukun juga berpotensi menjadi alternatif pakan bagi peternak sapi perah.

Dadang menilai pola ini tidak hanya memperkuat sistem peternakan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di pedesaan.

Ia juga menyoroti potensi pengembangan tanaman pangan bernilai gizi tinggi, salah satunya kacang Sacha Inchi yang dikenal kaya kandungan Omega 3, Omega 6, dan Omega 9.

Baca Juga:Nestlé Indonesia Tegaskan Dampak Nyata Program Pendampingan Gizi  dalam Mendukung Upaya Pencegahan Stunting6 UMKM Tembus Pasar Global, Produk Camilan Lokal Diekspor ke Maladewa

Menurutnya, tanaman tersebut memiliki masa produktif yang panjang dan dapat mulai dipanen sekitar delapan bulan setelah ditanam.

“Tanaman ini bisa berproduksi hingga puluhan tahun dan kandungan nutrisinya sangat baik untuk mendukung kebutuhan gizi masyarakat,” ujarnya.

Dadang menegaskan, sebagai negara agraris Indonesia memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri, termasuk susu dan produk peternakan lainnya.

Ia menambahkan, dukungan regulasi yang mempermudah petani dan peternak sangat diperlukan agar sektor pertanian dan peternakan dapat berkembang lebih optimal.

0 Komentar