Tekanan Psikologis Pelajar Meningkat di Era Digital, Pemkot Bandung Siapkan Kebijakan Berbasis Riset

Ilustrasi: Siswa SD menggunakan gawai di Sekolah. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Ilustrasi: Siswa SD menggunakan gawai di Sekolah. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyoroti meningkatnya tekanan psikologis yang dialami anak-anak usia sekolah di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan penggunaan gadget. Fenomena tersebut dinilai tidak bisa dianggap sepele karena berpotensi memengaruhi kondisi mental serta perkembangan sosial pelajar.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, kehidupan generasi muda saat ini tidak bisa dilepaskan dari ekosistem digital. Akses internet yang semakin mudah membuat anak-anak terhubung dengan berbagai platform media sosial, informasi global, hingga tren gaya hidup yang berubah dengan sangat cepat.

Menurut Farhan, situasi ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi pelajar. Arus informasi yang masif seringkali menimbulkan tekanan psikologis, terutama ketika anak merasa tertinggal atau tidak mampu mengikuti perkembangan yang terjadi di ruang digital.

Baca Juga:Lewat Eksepsi, Kuasa Hukum Resbob Nilai Dakwaan JPU Cacat FormilBULOG Bandung Percepat Serapan Gabah Petani di Sumedang

“Anak-anak sekarang hidup di dunia yang sangat cepat. Mereka terus melihat berbagai tren dan pencapaian orang lain di media sosial. Ketika merasa tidak bisa mengikuti atau *keep up* dengan perkembangan tersebut, muncul rasa tertekan dalam diri mereka,” ujar Farhan, Jumat (6/3/2026).

Ia menjelaskan, tekanan mental yang dialami pelajar tidak semata-mata disebabkan oleh aktivitas di dunia digital. Berbagai faktor lain juga memiliki peran besar dalam membentuk kondisi psikologis anak, mulai dari lingkungan keluarga, pola pengasuhan, relasi pertemanan, hingga tekanan akademik yang mereka hadapi di sekolah.

Farhan menilai, kombinasi dari berbagai faktor tersebut dapat memperbesar potensi stres pada anak usia sekolah apabila tidak diantisipasi dengan pendekatan yang tepat.

“Lingkungan keluarga, hubungan sosial, sistem pendidikan, dan tuntutan akademik semuanya saling memengaruhi. Ini yang membuat persoalan kesehatan mental anak menjadi sangat kompleks,” katanya.

Karena itu, Pemkot Bandung memandang penting untuk melakukan kajian ilmiah yang komprehensif sebelum merumuskan kebijakan terkait kesehatan mental pelajar. Pendekatan berbasis data dianggap menjadi langkah penting agar kebijakan yang disusun benar-benar mampu menjawab persoalan yang terjadi di lapangan.

“Kami tidak ingin mengambil langkah hanya berdasarkan asumsi. Setiap kebijakan yang dirumuskan harus didukung oleh data dan kajian ilmiah agar solusi yang dihasilkan lebih tepat sasaran,” jelas Farhan.

0 Komentar