JABAR EKSPRES – Malnutrisi pada anak masih menjadi salah satu tantangan pembangunan kesehatan di Indonesia yang harus menjadi perhatian serius. Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, angka stunting di Jawa Barat masih mencapai 15,9%.
Untuk itu, pencegahan stunting dan malnutrisi pada anak masih perlu menjadi perhatian semua pihak agar upaya untuk mempersiapkan Generasi Emas Indonesia pada tahun 2045 tidak terhambat.
Selain menghambat pertumbuhan, kondisi seperti stunting, wasting, dan underweight membuat anak lebih rentan mengalami berbagai penyakit infeksi yang memerlukan biaya pengobatan besar dan dapat memengaruhi kualitas hidup mereka dalam jangka panjang.
Baca Juga:Pendaftaran Dibuka, AHM Best Student Ajak Pelajar Ubah Ide Jadi Inovasi untuk NegeriKomunitas ADV Riders Bandung (ARB) Gelar Acara Berkurban
Oleh karena itu, jika anak telah terindikasi mengalami masalah gizi atau malnutrisi, langkah utama yang harus dilakukan adalah segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk mengevaluasi tumbuh kembang dan mencari tahu penyakit penyerta.
Penanganan yang tepat juga harus segera diberikan karena dampaknya masih bisa diperbaiki dan dikejar, salah satunya dengan memberikan solusi nutrisi Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) atau Nutrient-Dense Formula (NDF).
Terlebih lagi, sebuah penelitan terbaru telah menunjukkan bahwa intervensi PKMK dapat membantu menurunkan prevalensi stunting, wasting (berat badan rendah dibanding tinggi badan), dan underweight (berat badan rendah dibanding usia).
Hasil penelitian terbaru berjudul “A Nutrient-Dense Formula in Undernourished Children in Indonesia: A Cost-Effective Strategy” telah dipresentasikan oleh Associate Professor Muh. Akbar Bahar, Ph.D., Ketua Pharmacoepidemiology Research Group (PharmaEpid-RG), Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, pada ajang International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR) Europe 2025 di Glasgow, Skotlandia.
“Penelitian ini mengevaluasi dampak kesehatan dan ekonomi dari pemberian PKMK atau NDF kepada anak-anak Indonesia yang mengalami masalah gizi. Hasil analisis menunjukkan bahwa intervensi nutrisi tersebut berpotensi menurunkan prevalensi stunting sebesar 34,5%, wasting sebesar 72,7%, dan underweight sebesar 51,7%. Jika diterapkan secara luas, dampaknya diperkirakan dapat mencegah sekitar 1,6 juta kasus stunting, 1,2 juta kasus wasting, dan 1,9 juta kasus underweight pada anak Indonesia,” papar jelas Muh. Akbar Bahar.
Tidak hanya memperbaiki status gizi, penelitian ini juga menunjukkan bahwa perbaikan nutrisi berpotensi menurunkan berbagai penyakit infeksi yang sering dialami anak dengan gizi kurang. Model yang dikembangkan memperkirakan penurunan kasus tuberkulosis (TB) sebesar 47,2% dan pneumonia sebesar 44,7%, setara dengan pencegahan sekitar 1,2 juta kasus TB dan 1 juta kasus pneumonia. Selain itu, kasus ISPA dan diare diperkirakan dapat berkurang masing-masing hingga 2,6 juta dan 2 juta kasus pada skenario utama penelitian.
