JABAR EKSPRES – Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, mengungkapkan jalur lama khusus roda dua di Jalan Saleh Danasasmita, Kelurahan Lawanggintung, Kecamatan Bogor Selatan, kembali ditutup total pada Kamis (4/6/2026).
Jembatan yang sebelumnya ditutup akibat retakan pada Januari 2026 itu, sempat dibuka kembali selama sepekan pada Kamis (28/5/2026) dan kini ditutup untuk mendukung pekerjaan pembangunan trase atau jalur baru Batutulis.
Jenal mengatakan, pembukaan sementara tersebut merupakan hasil koordinasi dan negosiasi yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, kepada pihak proyek setelah menerima banyak keluhan serta permintaan dari warga dan pengemudi ojek online yang terdampak penutupan akses tersebut.
Baca Juga:Pembangunan Jalur Baru Batutulis Masuk Tahap Soil Test, Target Rampung 21 Oktober 2026 Warga Ngeluh Jalur Alternatif Batutulis Licin, Pemkot Bogor Pastikan akan Diaspal Ulang
Saat momentum Iduladha lalu, Jenal mengaku menerima langsung aspirasi masyarakat yang meminta agar akses kembali dibuka karena menjadi jalur penting untuk aktivitas sehari-hari.
Meski jalan tersebut berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan PT KAI, Pemkot Bogor tetap berupaya menjembatani kebutuhan warga melalui koordinasi dengan Dinas Penataan Ruang dan Pekerjaan Rumah (PUPR) Kota Bogor terkai keamanan jalan tersebut.
“Waktu itu pas kurban bersama Pak Wali berada di wilayah Batutulis. Banyak warga, termasuk ojek online, meminta jalan dibuka. Akhirnya kami berkoordinasi dengan Dinas PUPR dan bernegosiasi dengan pihak pelaksana proyek apakah akses itu masih bisa dibuka sementara,” kata Jenal kepada wartawan di Balai Kota Bogor, Jumat (5/6/2026).
Ia menjelaskan, permasalahan bermula setelah longsor yang terjadi pada Maret 2025 menyebabkan Jalan Saleh Danasasmita tidak lagi aman digunakan. Sebagai solusi sementara, akses alternatif khusus kendaraan roda dua kemudian dibuka pada akhir Agustus 2025.
Namun, jalur sementara tersebut beberapa kali mengalami retakan akibat hujan deras dan pergerakan tanah. Meski sempat diperbaiki, retakan kembali muncul pada Januari 2026 hingga akhirnya akses ditutup karena dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Menurut Jenal, meski sudah tersedia sejumlah jalur alternatif melalui Cipaku dan Rangga Mekar, banyak warga yang masih mengeluhkan jarak tempuh yang lebih jauh. Bahkan, sebagian masyarakat tetap berupaya melintas secara paksa melalui jalur yang ditutup itu.
“Posisinya itu diizinkan juga tidak, dilarang pun sulit. Banyak masyarakat yang meminta akses dibuka dulu, akhirnya kami mencoba bernegosiasi dengan pihak pelaksana proyek agar ada kesempatan sementara bagi warga untuk tetap melintas,” ujarnya.
