Semarak Coklat Kita Silatusantren Nikmatnya Ramadan 2026

Semarak Coklat Kita Silatusantren Nikmatnya Ramadan 2026
Sesi Talkshow Coklat Kita Silatusantren Nikmatnya Ramadhan 2026 di Ponpes Darussalam, Kabupaten Ciamis, Sabtu (28/2). (Sadam/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES — Suasana Ramadan di Pesantren Darussalam, Sabtu (28/2) terasa berbeda. Ratusan santri, mahasiswa, pengasuh pesantren, hingga tamu undangan lintas daerah berkumpul dalam balutan kebersamaan pada pembukaan program Coklat Kita Silatusantren Nikmatnya Ramadan 2026.

Pesantren tertua di Kabupaten Ciamis ini menjadi titik awal rangkaian silaturahmi lintas pesantren yang menggabungkan buka puasa bersama, berbagi takjil, dialog kebudayaan, hingga pertunjukan seni religi. Hangatnya suasana tak hanya tercermin dari kebersamaan saat berbuka, tetapi juga dari gagasan-gagasan besar tentang peran pesantren di tengah perubahan zaman.

Budayawan Budi Dalton dalam pemaparannya menyebut pesantren sebagai salah satu pusat kebudayaan yang masih bertahan dan relevan hingga kini.

Baca Juga:Dari Gunung Puntang, Coklat Kita Silatusantren Tadabbur Alam Tanamkan Nilai Cinta Lingkungan kepada SantriCoklat Kita Napak Jagat Pasundan 'Ngaruat Jagat', Persembahan Spektakuler Bagi Pangandaran di Usia Ke-13

“Pesantren itu bagian dari mata air kebudayaan di Indonesia. Didalamnya tersimpan nilai, tradisi, dan sistem pengetahuan yang sangat penting bagi generasi muda,” ujarnya.

Ia juga menyinggung konsep silatusantren yang dinilainya memiliki semangat serupa dengan gerakan silaturahmi budaya sebelumnya.

Budayawan Zastrouw Al Ngatawi (Kiri), Budayawan Budi Dalton,
Budayawan Zastrouw Al Ngatawi (Kiri), Budayawan Budi Dalton, Pimpinan Pesantren Darussalam, KH Dr Fadlil Yani Ainusyamsi, Perwakilan Coklat Kita, Yudi Wate Angin (Kanan), saat sesi interview kepada awak media. (Sadam/JE)

“Jadi silatusantren itu sebetulnya hampir tidak berbeda dengan silaturahmi budaya atau silabud dulu. Hanya saja, waktu silatusantren di Gunung Puntang, ada pendekatan yang lebih mendalam tentang ekologi atau kedekatan dengan alam,” katanya.

Senada dengan itu, budayawan Zastrouw Al Ngatawi memaknai silatusantren sebagai upaya membangkitkan kembali kekuatan dasar pesantren.

“Yang terpenting dari silatusantren ini adalah reaktivasi genetika kultural pesantren. Kalau dalam bahasa sosiologinya begitu,” ujarnya.

Menurutnya, pesantren menyimpan seperangkat nilai dan tradisi yang mampu menjadi benteng menghadapi gempuran budaya global.

Baca Juga:Kunjungi Ponpes Al-Ma’mun Sumedang, Coklat Kita Silatusantren Bikin Santri Peduli Kebersihan LingkunganCoklat Kita Silatusantren di Subang: Dorong Santri Jadi Pelopor Gerakan Peduli Sampah

“Pesantren ini bagian dari mata air kebudayaan dan peradaban. Banyak tradisi, nilai, dan norma didalamnya yang bisa menjadi vaksin kultural menghadapi virus-virus kultural dari mana saja,” tuturnya.

Ia menambahkan, pesantren adalah “inkubator vaksin kultural” yang melalui silaturahmi seperti ini dapat memperkuat imunitas generasi muda.

“Melalui silaturahmi pesantren, vaksin-vaksin kultural ini bisa dieksplorasi untuk diinjeksikan kepada anak-anak muda sekarang sehingga mereka memiliki imunitas kultural yang sangat tinggi,” tegasnya.

0 Komentar