Menilik Masjid Mungsolkanas di Gang Cihampelas 

Pengurus masjid menjemur sajadah di area Masjid Mungsolkanas, Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Selasa (24/2)
Pengurus masjid menjemur sajadah di area Masjid Mungsolkanas, Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Selasa (24/2). Masjid Mungsolkanas tersebut dibangun pada tahun 1869 dan merupakan salah satu masjid tertua di Kota Bandung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Masjid Mungsolkanas yang berada di Jalan Cihampelas, Kelurahan Cipaganti, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Selain bernilai sejarah, masjid ini dikenal sebagai salah satu tempat ibadah yang nyaman dan strategis di kawasan Cihampelas.

Sekretaris DKM Masjid Mungsolkanas, Utep Rahmat, mengatakan nama Mungsolkanas tidak berasal dari bahasa Arab sebagaimana masjid pada umumnya.

“Mungsolkanas ini merupakan kependekan dari kalimat dalam bahasa Sunda yaitu: ‘Mangga Urang Ngaos Sholawat ka Kanjeng Nabi Muhammad SAW’,” ujarnya secara tertulis, Selasa (24/2).

Baca Juga:Emosi Memuncak di GBLA, Andrew Jung Tegaskan Niatnya Redam Situasi Demi PersibBSI Fest Ramadan 2026 Hadir di 9 Kota Besar, Promo Umrah Hemat sampai Rp4 Juta

Kalimat tersebut, kata Utep, kurang lebih berarti ‘mari kita baca sholawat untuk Nabi Muhammad SAW. Makna yang terkandung dalam nama masjid tersebut mengingatkan umat Islam bahwa sebagai hamba Allah harus selalu beribadah hanya kepada-Nya.

Masjid Mungsolkanas tercatat berdiri sejak 1869. “Masjid Mungsolkanas pada awal pembangunannya yaitu tahun 1869,” kata Utep.

Pembangunan itu lebih awal dibandingkan Masjid Cipaganti yang berdiri pada 1933. Dalam catatan sejarahnya, Utep menyebutkan, “Masjid Mungsolkanas pernah menjadi tempat singgah Presiden Soekarno untuk menginap saat masih berkuliah di Technische Hoogeschool te Bandung (sekarang ITB),” imbuhnya.

Pada masa awal, kondisi bangunan masih sangat sederhana. Pada awalnya, bangunan masjid hanya berupa rumah panggung sederhana yang terbuat dari bilik bambu.

Tanah masjid berasal dari wakaf. Tanah masjid merupakan tanah wakaf atas nama pemberinya yaitu Hj. Siti Lantenas, seorang janda kaya dari wilayah Lengkong Sukabumi. Bentangan tanah wakaf tersebut, menurut Utep, dari Jalan Raya Siliwangi (Gandok Ciumbuleuit) hingga Pelesiran (Cihampelas Bawah).

“Masjid Mungsolkanas pertama kali melakukan proses renovasi pada tahun 1933, bersamaan dengan pembangunan Masjid Raya Cipaganti oleh pemerintah Belanda,” kata Utep.

Namun, ia menegaskan, “Masjid Mungsolkanas merupakan wujud gotong royong dari warga sekitar di bawah komando Mama Aden,” tegasnya.

Baca Juga:Lewat #TemanAturUang, Kredit Pintar Dorong Ibu Lebih Bijak Pahami Pinjaman dan Kelola Keuangan SehatMeski Sulit, Tuntaskan di Bandung!

Renovasi total kemudian dilakukan pada 2009, dari yang semula bangunan satu lantai berubah menjadi dua lantai.

Di tengah perubahan bangunan, Masjid Mungsolkanas masih menyimpan peninggalan sejarah. “Peninggalan sejarah tersebut yakni Al-Qur’an yang ditulis tangan Mama Aden,” kata Utep.

0 Komentar