Mushaf tersebut disimpan di lantai dua masjid. Selain itu, terdapat pula sebuah batu hitam besar dengan ukiran nama dan tahun pembangunan masjid yang terletak di depan pintu masuk Tulisan pada batu tersebut berbunyi: Masjid Mungsolkanas / Berdiri Tahun 1869 / Mangga Urang Ngaos Sholawat ka Kanjeng Nabi SAW.
Hingga kini, Masjid Mungsolkanas tetap berfungsi aktif. “Masjid Mungsolkanas tidak menjadi museum, tetapi tetap hidup sebagai masjid kampung yang aktif,” ujar Utep.
“Pengajian anak-anak, pengajian ibu-ibu, pendidikan usia dini, hingga kegiatan Ramadan masih berjalan rutin,” sambungnya.
Baca Juga:Emosi Memuncak di GBLA, Andrew Jung Tegaskan Niatnya Redam Situasi Demi PersibBSI Fest Ramadan 2026 Hadir di 9 Kota Besar, Promo Umrah Hemat sampai Rp4 Juta
Masjid ini juga secara berkala menyelenggarakan layanan kesehatan gratis bekerja sama dengan rumah sakit.
Meski berada di dalam gang kecil, Masjid Mungsolkanas tetap menjadi penanda sejarah. “Meskipun masuk ke dalam gang kecil, tetapi seperti melangkah ke lorong waktu, kembali ke Bandung yang lebih pelan, lebih ramah, dan lebih bersahaja,” kata Utep.
