Transmigrasi Bertransformasi, dari Bagi Lahan Menuju Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru

Transmigrasi Bertransformasi, dari Bagi Lahan Menuju Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru
Ilustrasi sejumlah rumah di kawasan transmigrasi. (Foto: ANTARA)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kementerian Transmigrasi mengubah pendekatan pengembangan kawasan transmigrasi dengan memfokuskan pada penciptaan ekosistem ekonomi produktif dan berkelanjutan.

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa program transmigrasi kini tidak lagi sebatas membagikan lahan kepada masyarakat, melainkan membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Iftitah menjelaskan bahwa pemetaan dilakukan sebagai bagian perubahan paradigma transmigrasi, yang saat ini tidak lagi berfokus pada pembagian lahan semata, melainkan pada penguatan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan dan produktif.

Baca Juga:Jelang Ramadhan 2026, Pemerintah Gelontorkan Bantuan Rp11,92 Triliun untuk Jaga Daya Beli Masih Hadapi Tantangan untuk Tembus Pasar Kanada, UMKM Indonesia Masih Butuh Pembinaan 

“Oleh karena itu, untuk menciptakan ekosistem ekonomi baru yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan, maka tahun kemarin (2025) kami mengirim lebih dari 2.000 peneliti ke 154 kawasan transmigrasi agar mereka menemukan apa potensi ekonomi yang ada di sana. Inilah yang kemudian kami kembangkan,” kata Mentrans.

Menurutnya, masa lalu transmugrasi menitikberatkan pemberian lahan agar masyarakat dapat bekerja dan mendapatkan penghasilan, namun pendekatan tersebut kini dinilai perlu disesuaikan dengan perkembangan kondisi dan kebutuhan.

Ia juga menyebut keterbatasan lahan dan meningkatnya jumlah penduduk membuat pembagian lahan bukan lagi satu-satunya solusi, sehingga pemerintah perlu mengembangkan pendekatan baru yang menitikberatkan penciptaan ekonomi di kawasan transmigrasi.

Selain itu, Kementerian Transmigrasi berfokus membangun ekosistem ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan dengan membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal serta memastikan kegiatan ekonomi tidak merusak lingkungan.

Adapun untuk mendukung langkah tersebut, pemerintah telah mengirim lebih dari 2.000 peneliti ke ratusan kawasan transmigrasi untuk mengidentifikasi potensi ekonomi yang bisa dikembangkan secara optimal dan berkelanjutan.

Hasil pemetaan menunjukkan potensi ekonomi kawasan transmigrasi tidak hanya di sektor pertanian, namun juga mencakup perkebunan, peternakan, perikanan, kelautan, pariwisata serta sektor lain yang bisa mendorong pertumbuhan daerah.

Menurut Iftitah, pengembangan kawasan transmigrasi saat ini diarahkan pada penciptaan pusat pertumbuhan ekonomi baru, sehingga program transmigrasi tidak sekadar memindahkan penduduk, namun juga memperkuat produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga:Simbol Kedaulatan Pangan Nasional, Bapanas Pastikan Kelancaran Proses Ekspor Beras Haji ke Arab SaudiBPDP Dorong UMKM Perkebunan Berbasis Ekonomi Hijau Tembus Pasar Global

“Dan bahkan sekarang ini pada beberapa titik, ketika saya cek langsung ke lapangan, nilai valuasi tanah transmigrasinya pun meningkat pesat. Dari yang dulu mungkin hanya beberapa ribu rupiah saja, sekarang sudah sampai ada yang satu juga per meter persegi,” kata Mentrans.

0 Komentar