JABAR EKSPRES – Ruang perawatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciamis menjadi saksi bisu perjuangan terakhir seorang warga binaan pemasyarakatan, Iwan Bin Alimin. Narapidana itu mengembuskan napas terakhir pada dini hari, 9 Februari 2026, pukul 03.17 WIB, setelah menjalani serangkaian perawatan intensif akibat komplikasi penyakit yang dideritanya.
Kronologi kejadian yang dirilis oleh pihak Lembaga Pemasyarakatan setempat menggambarkan upaya penanganan berjenjang yang diberikan kepada Iwan, mulai dari klinik internal lapas hingga rumah sakit rujukan.
Awal mula petaka, kesehatan Iwan tercatat pada tanggal 24 Januari 2026. Saat itu, ia mulai dirawat di klinik Lapas dengan keluhan nyeri perut yang menjalar hingga ke punggung. Keluhan tersebut ternyata tidak kunjung mereda, bahkan disertai dengan mati rasa pada kedua kaki. Oleh karena itu, esok harinya, 25 Januari pukul 09.30 WIB, Iwan dirujuk untuk pertama kalinya ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Ciamis.
Baca Juga:Simbol Kedaulatan Pangan Nasional, Bapanas Pastikan Kelancaran Proses Ekspor Beras Haji ke Arab SaudiBPDP Dorong UMKM Perkebunan Berbasis Ekonomi Hijau Tembus Pasar Global
“Pihak rumah sakit kemudian merawatnya secara inap selama tiga hari, dari 25 hingga 27 Januari, dengan diagnosis awal Myeloradikulopati Thoracal setinggi Th 7-8, suatu kondisi yang mempengaruhi saraf tulang belakang. Setelah kondisi dianggap stabil, ia kembali dibawa ke klinik Lapas untuk pemulihan lebih lanjut,” tulis pihak Lapas Ciamis dalam keterangan pers yang diterima Jabar Ekspres, Selasa (10/2/2026).
Namun, perbaikan kondisi itu tidak berlangsung lama. Pada 29 Januari 2026 pukul 10.50 WIB, Iwan harus dilarikan kembali ke IGD RSUD Ciamis. Kali ini, keluhannya adalah hipotensi atau tekanan darah rendah, sesak napas, dan kelemahan pada anggota gerak bawah.
Ia menjalani perawatan inap yang lebih panjang, hingga tanggal 4 Februari 2026. Diagnosis terhadapnya berkembang menjadi Angina Pectoris yang disertai dengan syok hipovolemik, hipokalemia, dan Gastroenteritis Akut (GEA) dehidrasi berat. Kompleksitas diagnosis ini menunjukkan perburukan kondisi kesehatannya. Setelah periode perawatan ini, Iwan kembali lagi ke klinik Lapas dengan pengawasan ketat.
Puncak krisis terjadi pada malam tanggal 8 Februari 2026. Sekitar pukul 23.00 WIB, kondisi Iwan dilaporkan menurun drastis. Tim perawat lapas segera melakukan penanganan darurat di klinik internal. Menyadari kegawatannya, kurang dari satu setengah jam kemudian, tepatnya pukul 00.20 WIB tanggal 9 Februari, Iwan dirujuk untuk ketiga kalinya ke IGD RSUD Ciamis.
