Di sela penyaluran bantuan, Yudi menyampaikan keprihatinannya atas besarnya dampak longsor Cisarua yang merenggut korban jiwa dan meratakan puluhan rumah warga di kaki Gunung Burangrang.
Ia menegaskan kehadirannya bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan bentuk tanggung jawab moral terhadap warga Bandung Barat.
“Sebagai Dewan Pembina merasa berkewajiban mendukung penuh kegiatan positif yang diinisiasi organisasi, apalagi ketika menyangkut kebutuhan dan kesulitan keluarga yang terdampak bencana,” ujar Yudi saat diwawancarai awak media, Selasa (10/2/26).
Baca Juga:Kurang Terawat, Halte Depan UIN Bandung Dinilai Tak NyamanVolume Sampah di TPS Pangaritan Tinggi, Petugas Bekerja hingga 12 Jam
Ia juga menuturkan kedekatan emosionalnya dengan wilayah terdampak. Sebagai pituin Cimahi, Yudi mengungkapkan bahwa dirinya dan Dieky tumbuh di lintas wilayah Bandung Raya.
“Kejadian longsor ini di KBB, dulur keneh. Mun dulur kena musibah, ya kita tidak bisa diam, kita harus datang dan ikut ngupayakeun solusi,” tegasnya.
Yudi menilai, pada fase awal bencana, bantuan sembako memang sangat dibutuhkan. Namun seiring waktu, kebutuhan khusus seperti perlengkapan bayi, anak-anak, dan kebersihan diri kerap luput dari perhatian.
“Anak-anak disini selain membutuhkan rasa nyaman dan rasa aman. Kebutuhan susu dan bubur bayi, diapers, dan sabun itu kelihatannya sepele, tapi bagi ibu-ibu yang kehilangan rumah dan isi dapurnya, itu bisa jadi penopang ketenangan mereka untuk beberapa hari ke depan,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan SPPG Djati Pasundan sebagai pelaku usaha lokal yang terlibat aktif dalam aksi kemanusiaan. Menurutnya, kolaborasi tersebut mencerminkan praktik ekonomi yang memiliki kepedulian sosial dan kesiapsiagaan terhadap situasi darurat di wilayah sekitar.
“Ini bukan soal besar kecilnya bantuan, tapi konsistensi. Kita ingin menunjukkan bahwa pelaku usaha di daerah juga bisa bergerak cepat, berkolaborasi dengan organisasi masyarakat seperti LMP, dan hadir langsung di tengah warga tanpa banyak protokol,” kata Yudi.
Apresiasi juga disampaikan kepada Brigade 17 LMP Kota Cimahi yang dinilai konsisten turun ke lapangan, tidak hanya pada fase awal bencana ketika sorotan media masih tinggi.
Baca Juga:Cibiru Macet Tiap Hari, Pengendara Ngeluh: Menyusahkan!Harga Cabai Melambung Tinggi, Ibu Rumah Tangga di Bandung Timur Dipaksa Berhemat
“Saya bangga melihat kawan-kawan Brigade 17 dan pengurus LMP Kota Cimahi tidak hanya hadir di awal ketika bencana ini ramai diberitakan, tapi tetap datang lagi ketika sorotan media mulai berkurang. Ini menunjukkan bahwa yang kita kejar bukan sekadar dokumentasi, tapi keberlanjutan kepedulian,” ujarnya.
