Banjir Berulang Tanpa Solusi, Petani Pangandaran Terancam Gagal Tanam

Area pesawahan di Kecamatan Padaherang kembali terendam banjir. Warga menuntut penangan serius dari pemerintah
Area pesawahan di Kecamatan Padaherang kembali terendam banjir. Warga menuntut penangan serius dari pemerintah setempat. (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ratusan hektare area persawahan dan sejumlah permukiman di Desa Paledah, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran hingga saat ini masih terendam air.

Kondisi ini bukanlah fenomena baru, melainkan persoalan klasik tahunan yang seakan tak pernah menemui titik terang penyelesaian. Keluhan warga pun terus bergulir, menyoroti belum optimalnya penanganan sistem pengairan di wilayah tersebut meski telah ada intervensi pembangunan.

Salah seorang warga, Saefulloh (25), mengungkapkan bahwa meski sudah ada upaya pembuatan dan pelebaran jalur air yang dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy, realita di lapangan tak banyak berubah.

Baca Juga:Ramai Soal Reshuffle Kabinet Prabowo Siang Ini, Nama Juda Agung Menguat untuk Posisi WamenkeuLayvin Kurzawa, Jawaban Persib di Fase Paling Menentukan

Sawah-sawah yang seharusnya sudah mulai ditanami kembali terendam, sementara beberapa rumah warga di bagian rendah juga tak luput dari luapan air.

“Meski sebelumnya sudah dilakukan pembuatan maupun pelebaran jalur air, kondisi di lapangan menunjukkan banjir masih terus terjadi,” ujar Saefulloh, Jumat (30/1/2026).

Genangan yang masih merendam wilayahnya, menurut Saefulloh, mengindikasikan adanya masalah mendasar dalam sistem aliran air. Ia menduga, sistem yang ada belum berfungsi secara optimal.

Selain itu, faktor minimnya perawatan lanjutan pasca-pembangunan infrastruktur turut menjadi penyebab. “Air masih sering meluap dan menggenangi sawah serta pemukiman. Sepertinya aliran air belum bekerja maksimal dan tidak ada perawatan lanjutan,” ungkapnya.

Kekecewaan serupa juga dilontarkan oleh warga lainnya, Ujang (26). Ia mengaku frustasi karena berbagai upaya yang dikerahkan oleh pemerintah hingga saat ini belum memberikan dampak signifikan yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Setiap kali hujan dengan intensitas tinggi mengguyur, ancaman banjir selalu menghantui. “Kalau hujan deras, air cepat sekali meluap dan kembali menggenangi wilayah kami. Jalur air memang sudah diperbesar, tapi kenyataannya banjir masih sering terjadi,” jelas Ujang.

Lebih jauh, Ujang menilai akar persoalan yang sebenarnya terletak pada kurangnya perhatian dan pengawasan berkelanjutan dari instansi terkait.

Baca Juga:Dion Markx Jadi Simbol Regenerasi Persib BandungDPRD KBB Fraksi PDI Perjuangan Kawal MBG Agar Berkualitas dan Tepat Sasaran

Pembangunan infrastruktur dinilai hanya bersifat proyek sesaat tanpa diikuti dengan komitmen maintenance dan evaluasi menyeluruh terhadap efektivitasnya. Ia pun mendesak agar pemerintah dan BBWS Citanduy turun langsung ke lapangan untuk melihat situasi secara lebih komprehensif.

0 Komentar