DPRD Kota Banjar Soroti Penataan dan Daya Saing Produk

DPRD Kota Banjar Soroti Penataan dan Daya Saing Produk
Komisi ll DPRD Banjar saat mengunjungi Galeri UMKM Sukma Kenanga dalam kegiatan kunker belum lama ini. Mereka menyoroti belum optimalnya galeri ini untuk memasarkan produk UMKM Kota Banjar. (Cecep Herdi/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Galeri UMKM Sukma Kenanga sebagai salah satu wadah pemasaran produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Banjar mendapatkan sorotan dari anggota legislatif.

Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Banjar baru-baru ini melakukan kunjungan kerja (kunker) ke galeri tersebut guna meninjau langsung efektivitas dan kondisinya.

Dalam kunjungan tersebut, pihak legislatif mengapresiasi kondisi bangunan galeri yang sudah baik. Namun, mereka menemukan sejumlah catatan yang dinilai perlu perhatian serius untuk meningkatkan fungsi dan kontribusi galeri bagi perekonomian lokal.

Baca Juga:Kota Banjar Raih UHC Award 2026, Wali Kota Sudarsono: Ini Hasil Kolaborasi Seluruh StakeholderUsai Temuan BPK, KNPI Banjar Kembalikan Dana Hibah Rp34 Juta ke Kas Daerah

Sekretaris Komisi II DPRD Kota Banjar, Budi Kusmono, menyatakan bahwa dari segi penataan, masih terdapat ruang kosong yang belum termanfaatkan dengan optimal di dalam galeri. Hal ini dinilai mengurangi keragaman tampilan dan potensi daya tarik bagi pengunjung.

“Untuk bangunan gedung sudah bagus, hanya saja dari segi penataan harus ditata lagi karena masih ada ruang yang kosong belum terisi,” ujar Budi Kusmono. Ia menekankan bahwa pemanfaatan ruang yang lebih maksimal sangat penting mengingat besarnya jumlah UMKM di Kota Banjar. Data yang tercatat menunjukkan terdapat sekitar 33 ribu pelaku UMKM, yang aktif beroperasi sekitar 27 ribu. Sayangnya, tidak semua dari mereka dapat menempatkan produknya di galeri karena keterbatasan kapasitas ruang yang ada.

Selain masalah penataan ruang, temuan lain yang mengemuka adalah terkait kualitas kemasan sejumlah produk. Anggota komisi menilai masih ada kemasan produk yang belum layak atau kurang menarik perhatian konsumen. Kemasan yang kurang profesional dinilai dapat mengurangi nilai jual dan minat beli, meskipun kualitas produknya sendiri mungkin sudah baik.

Budi Kusmono merekomendasikan agar dilakukan pembinaan lebih intensif kepada pelaku UMKM mengenai pentingnya desain dan standar kemasan yang baik.

Di sisi lain, Budi juga melihat peluang tambahan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ia mengusulkan agar ruang di lantai dua gedung galeri yang masih belum terpakai dapat disewakan untuk aktivitas komersial lainnya.

“Sebenarnya masih ada ruang yang bisa dimanfaatkan di Galeri UMKM untuk memasarkan produk UMKM. Di bagian atas (lantai dua) bisa disewakan juga, sehingga menambah PAD,” jelasnya.

0 Komentar