Menurutnya, rencana pengembangan Bus Rapid Transit (BRT) dan penataan ulang angkutan kota harus menjadi agenda utama, sementara pembangunan flyover ditempatkan sebagai opsi terakhir.
“Jembatan layang seharusnya bukan prioritas utama, tapi pelengkap. Kalau transportasi publiknya belum siap, flyover hanya jadi karpet merah untuk mobil pribadi,” katanya
Ia juga mendorong Pemkot Bandung agar membuka kajian teknis dan analisis dampak proyek secara transparan kepada publik.
Baca Juga:Dishub Kota Bandung Tanggapi Predikat Kota Termacet Dunia Versi TomTom Traffic Index 2025Bandung Kembali Masuk Daftar Kota Termacet Dunia, Solusi Tak Kunjung Efektif
Billy mengingatkan pentingnya pengambilan kebijakan berbasis data, bukan tekanan politis atau keinginan menampilkan proyek fisik besar.
“Publik perlu tahu, di mana titik kemacetannya, seberapa besar kontribusi perlintasan sebidang terhadap kemacetan, dan apakah flyover benar-benar solusi paling efektif dari sisi biaya dan dampak,” ujarnya.
Tanpa kajian yang terbuka dan partisipasi publik, Billy khawatir proyek jembatan layang hanya akan menjadi proyek mahal dengan manfaat terbatas.
“Bandung tidak kekurangan ide, tapi sering kekurangan konsistensi kebijakan. Jangan sampai jembatan layang ini hanya jadi monumen ketergesaan,” pungkasnya. (Dam)
