JABAR EKSPRES – Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief menilai industri jamu berbasis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi daerah, khususnya di luar Pulau Jawa.
Untuk itu, ia mendorong pemerintah memperkuat pembinaan UMKM jamu lokal agar mampu berkembang dan bersaing di pasar nasional.
Hendry menekankan, pembinaan tersebut perlu dilakukan secara terarah dengan melibatkan kementerian terkait, terutama Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
Baca Juga:Magang Nasional Dinilai Perkuat Kesiapan SDM Masuk Dunia KerjaTancap Gas! Indonesia Manfaatkan WEF Davos 2026 untuk Perkuat Posisi di Mata Investor Global
Menurutnya, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan dalam peningkatan kapasitas produksi, penerapan standar mutu, hingga perluasan akses pasar bagi produk jamu tradisional.
“Khususnya di luar Jawa pasar dan peminat usaha masih sangat besar. Sebagai perwakilan Riau, kami sangat berharap dapat ada industri serupa sehingga dapat membantu ekonomi UMKM,” kata Hendry.
Selain pembinaan, ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara industri jamu berskala besar dengan UMKM daerah sebagai pemasok bahan baku.
Banyak pelaku usaha lokal, kata dia, memiliki potensi untuk bermitra, namun masih menghadapi kendala keterbatasan informasi dan jejaring bisnis.
Dorongan tersebut disampaikan Hendry saat melakukan kunjungan spesifik ke pabrik PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk di Jawa Tengah pada 23 Januari 2026.
Kunjungan itu bertujuan untuk melihat langsung proses transformasi Sido Muncul dari produsen jamu tradisional hingga berkembang menjadi industri berskala nasional dan global.
Ia menilai, model pengembangan yang diterapkan Sido Muncul dapat menjadi contoh bagi pelaku usaha jamu lokal agar mampu naik kelas melalui inovasi, konsistensi kualitas, dan dukungan kebijakan yang berkelanjutan.
Baca Juga:Reformasi Tata Kelola, Dedi Mulyadi akan Pangkas Puluhan BUMD Jabar Jadi Satu Holding Dorong Kemandirian Energi, Menteri ESDM Setop Impor untuk SPBU Swasta di 2026
Saat ini, ada beberapa jenis perusahaan industry obat bahan alam di Indonesia yaitu Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA), serta Industri Obat Tradisional (IOT).
Kemenperin sendiri terus mendorong pengembangan obat bahan alam, terutama dalam proses produksi dan teknologi manufaktur, dengan salah satu upaya melalui pembangunan House of Wellness atau fasilitas produksi obat bahan alam.
Fasilitas pembuatan obat berbahan alami ini memiliki alat pendukung berupa pengolahan simplisia (segar dan kering) yang menunjang proses sortasi, pencucian, penirisan, perajangan dan pengeringan.
