JABAR EKSPRES – Aksara Sunda, salah satu penanda penting identitas budaya masyarakat Jawa Barat, kian terancam punah. Minimnya jumlah penutur sekaligus penulis aksara daerah ini memantik keprihatinan mendalam dari Maestro Aksara Sunda, Yudistira Purana Sakyakirti, yang akrab disapa Mang Ujang Laip.
Ia menilai kondisi tersebut telah berada pada titik genting dan membutuhkan langkah cepat serta nyata.
“Kini semakin langka orang Sunda yang mampu membaca dan menulis aksara Sunda. Itulah sebabnya kita harus bergerak cepat untuk menyelamatkannya,” kata Mang Ujang Laip, Minggu (25/1/26).
Baca Juga:DPRD KBB Fraksi PDI Perjuangan Kawal MBG Agar Berkualitas dan Tepat SasaranKritik PJU Berujung 'Undangan Klarifikasi', Warga Jabar Pertanyakan Ruang Aman Bersuara
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor krusial yang menyebabkan perkembangan aksara Sunda berjalan lambat, bahkan cenderung mengalami kemunduran. Salah satu faktor paling dominan adalah rendahnya minat masyarakat, terutama generasi muda, terhadap aksara daerah.
“Banyak masyarakat dan generasi muda menganggap aksara daerah tidak efektif sebagai sarana untuk mencari nafkah, sehingga kurang tertarik untuk mempelajarinya,” tuturnya.
Selain persoalan minat, Mang Ujang Laip juga menyoroti minimnya ruang dan wadah pembelajaran. Di Kota Cimahi, kata dia, masih sangat terbatas lembaga budaya atau komunitas yang secara khusus berfokus pada pengembangan minat keaksaraan daerah.
Padahal, penguatan budaya lokal sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pelestarian warisan budaya.
Ia menambahkan, berkurangnya penggunaan bahasa daerah turut berdampak pada eksistensi aksara kuno. Ketika bahasa Sunda semakin jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, simbol-simbol aksara yang menyertainya pun ikut kehilangan relevansi di mata masyarakat.
“Bahasa daerah yang menjadi isi dari aksara kuno semakin jarang digunakan, membuat simbol aksara tersebut terasa tidak relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Faktor lain yang tak kalah berpengaruh adalah dominasi sistem aksara dari kebudayaan baru yang dinilai lebih praktis dan efektif sebagai sarana komunikasi. Kondisi ini secara perlahan menjauhkan masyarakat dari aksara dan bahasa Sunda yang sejatinya merupakan bagian dari akar budaya mereka.
Baca Juga:Persib Hampir Full Team, Maung Bandung Siap Menggila di El Clasico IndonesiaBukan Sekadar Tiga Poin, Marc Klok Tegaskan Duel Persib vs Persija Soal Harga Diri Kota
Meski demikian, Mang Ujang Laip menegaskan bahwa aksara Sunda belum sepenuhnya hilang. Jejaknya masih dapat dijumpai dalam momentum tertentu, seperti upacara adat maupun peninggalan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan peradaban Sunda.
