JABAR EKSPRES – Ancaman child grooming di ruang digital kian nyata. Modusnya semakin halus, menyasar anak-anak yang belum memiliki daya saring emosi dan logika. Celah itu kerap muncul dari kurangnya pendampingan orang dewasa, baik di rumah maupun di sekolah.
Herry Richardy (56), ayah dari seorang siswi SMP di Kota Cimahi, mengaku kecemasan itu menjadi bagian dari kesehariannya.
“Sebagai ayah dari anak perempuan yang baru kelas 2 SMP, saya was-was. Anak usia segitu kan lagi mencari jati diri, emosinya masih naik-turun. Kalau ada orang asing masuk lewat celah perhatian, itu yang bahaya,” ujarnya saat diwawancarai Jabar Ekspres, Sabtu 24 Januari 2026.
Baca Juga:Tancap Gas! Indonesia Manfaatkan WEF Davos 2026 untuk Perkuat Posisi di Mata Investor Global Reformasi Tata Kelola, Dedi Mulyadi akan Pangkas Puluhan BUMD Jabar Jadi Satu Holding
Alih-alih mengandalkan pengawasan ketat semata, Herry memilih membangun filter internal pada anaknya. Ia menekankan nilai agama dan komunikasi emosional sebagai benteng awal.
“Saya selalu menekankan pemahaman agama sebagai ‘benteng’ utama. Saya bilang ke dia, tubuhnya itu amanah dari Tuhan yang harus dijaga,” katanya.
Pendekatan itu, menurut Herry, tak boleh disampaikan dengan cara menggurui. Ia memilih percakapan sederhana namun konsisten.
“Kalau dia pulang sekolah mukanya ditekuk, saya cuma tanya pelan, ‘Kenapa, Nak?’ Saya ingin dia merasa rumah adalah tempat paling aman untuk cerita,” ucapnya.
Dalam obrolan santai, Herry kerap menyisipkan pesan kewaspadaan. Baginya, pengawasan tanpa nilai moral akan mudah jebol ketika anak berada jauh dari orang tua.
“Nak, tidak semua orang yang memujimu itu tulus. Ada yang memuji untuk membuka pintu, lalu setelah masuk, dia merusak,” tuturnya.
Pendekatan berbeda diterapkan Reny Farida (36), ibu dari anak laki-laki kelas 3 SD. Bagi Reny, ancaman terbesar justru datang dari gadget yang lekat dengan keseharian anak.
Baca Juga:Dorong Kemandirian Energi, Menteri ESDM Setop Impor untuk SPBU Swasta di 2026 Program Diskon Nasional Perkuat UMKM, Transaksi Lampaui Target Tembus Rp122,28 Triliun
“Anak seumuran anak saya ini rasa penasarannya tinggi tapi belum bisa membedakan mana yang bahaya. Di media sosial predator sering nyamar jadi teman main game atau akun kartun,” kata Reny.
Ia memilih jalur pengawasan ketat. Waktu penggunaan gadget dibatasi, password diketahui orang tua, dan aktivitas digital anak dipantau langsung.
“Kadang saya duduk di sampingnya, ikut lihat apa yang dia tonton. Kalau ada yang aneh, langsung saya kasih tahu itu nggak boleh,” ujarnya.
