Hujan rintik membasahi Jalan Mayor Oking, Kota Bogor, Sabtu siang itu. Deretan angkutan kota berwarna hijau berjajar rapi di sisi jalan, menunggu penumpang dengan penuh harap. Di balik kaca-kaca buram yang tertutup embun, para sopir berteduh, sesekali memecah sunyi dengan teriakan trayek yang kian kehilangan daya tarik.
REGI, JABAR EKSPRES.
Calon penumpang dari arah Stasiun Bogor tampak tidak menghiraukan teriakan dari sopir Angkot, mereka terus berjalan ke tempat penitipan kendaraan maupun ke shelter ojek online (ojol) yanga sudah tersedia. Mereka juga sempat melambaikan tangan kepada para sopir sebagai tanda penolakan.
Rintik hujan seolah menutupi rasa kecewa para sopir. Dibalik rasa kecewanya, mereka terus berusaha membujuk penumpang dengan memamerkan tampilan kendaraannya yang bersih dan diharap bisa memberikan rasa nyaman.
Baca Juga:Brother Chang Dibuka di Bandung, Perpaduan Cita Rasa Asia dan Kisah InspiratifBelanja di Ciwalk Makin Seru, Banyak Hadiah dan Promo Romantis
Di dalam Angkot, Sopir Angkot yakni Sutanda yang berumur 47 tahun masih duduk di bagian depan dengan ditemani cemilan goreng pisang dan singkong terbungkus kantung plastik yang tersimpan di sebelahnya. Sesekali Sutanda menghilangkan rasa lelahnya dengan melihat video-video lucu di media sosial.
“Saya ada 20 tahun mah (kerja sebagai sopir Angkot),” kata Sutanda saat ditemui di Jalan Mayor Oking, Kota Bogor, pada Sabtu (24/1/2026).
Bahkan, sebelum adanya Sistem Satu Arah (SSA) di sekitar Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor, Sutanda telah memacu kecepatan di dalam Angkot dengan membawa penumpang ke tempat tujuan yang diinginkan.
Berbeda dengan Trayek saat ini yaitu Terminal Bubulak-Sukasari, saat itu Sutanda mengaku mengemudi dengan trayek Jasinga hingga Leuwiliang.
“Dulu saya mah narik kabupaten, dulunya. Jasinga, Leuwiliang, pada naik kan dulu. Di kabupaten dirazia terus, saya pindah ke sini (trayek) 02 pindah alih,” kata dia.
Kini, dirinya tidak lagi melihat kebelakang untuk mengenang masa primadona Angkot di wilayah Kota Bogor. Pria asal Dramaga itu mulai memastikan langkahnya untuk terus berjuang.
Ia kerap kali menombok dengan uang pribadinya kepada pengusaha angkot karena sepi penumpang yang menggunakan jasanya. Dalam satu hari, dia ditargetkan menyetor Rp 100 ribu.
