JABAR EKSPRES — Ancaman kesehatan serius tengah mengintai generasi muda Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) baru-baru ini merilis temuan mengkhawatirkan, bahwa semakin banyak anak usia Sekolah Dasar (SD) yang tercatat memiliki kadar gula darah di atas normal. Jika tak segera diintervensi, fenomena ini berisiko memicu penyakit mematikan seperti serangan jantung, stroke, hingga gagal ginjal saat mereka memasuki usia dewasa.
“Anak-anak SD itu kadar gula darahnya sudah tinggi. Padahal seharusnya kadar gula darah anak-anak itu normal karena aktivitasnya banyak,” tegas Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, dikutip dari Antara.
Nadia mengingatkan bahwa Diabetes Melitus (DM) adalah mother of disease (induk dari segala penyakit) yang merusak pembuluh darah di seluruh tubuh. Kemenkes pun mendesak perlunya regulasi ketat terkait pengendalian konsumsi Gula, Garam, dan Lemak (GGL) untuk memutus tren berbahaya ini.
Baca Juga:Tingkatkan Kompetensi Guru, Prodi SaIG UPI x MGMP Geografi Jabar Gelar Pelatihan Google Earth Engine (GEE)OLXmobbi Permudah Upgrade Mobil di GIIAS 2026, Siapkan Cashback hingga Rp35 Juta dan Layanan Trade-in
Lantas, dari mana datangnya paparan gula tinggi yang dialami anak-anak sejak dini tersebut? Jawabannya terungkap melalui hasil riset nasional terbaru dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Fikom Unisba) yang bekerja sama dengan Pikiran Rakyat Media Network (PRMN).
Riset berbasis Journalism Precision terhadap 2.150 orang tua balita tersebut menemukan fakta mencengangkan, 67,6 persen responden masih memberikan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan anak. Padahal, hampir 10 tahun lalu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menegaskan bahwa kental manis bukanlah produk susu untuk tumbuh kembang.
Sebagian besar anak yang menjadi objek survei berada pada rentang usia 1–3 tahun, sebuah periode emas yang membutuhkan nutrisi optimal. “Penelitian ini berlandaskan asumsi bahwa banyak orang tua yang salah kaprah dan menilai kental manis adalah bagian dari susu pertumbuhan. Padahal kandungan gizinya rendah dan lebih banyak mengandung gula,” jelas Ketua Tim Peneliti Fikom Unisba, Firmansyah.
Menariknya, survei tersebut mencatat mayoritas responden berpendidikan tinggi (sarjana). Ini menandakan bahwa fenomena salah kaprah nutrisi bukan sekadar masalah tingkat pendidikan, melainkan dipengaruhi oleh budaya keluarga, kebiasaan turun-temurun, faktor ekonomi, hingga pengaruh paparan iklan selama puluhan tahun.
