“Ga dapet (penumpang) dimarahin saya sama bos, kalau ga dapet ya saya setorin nombok paling kurangnya 60 ribu. Ga ada keuntungannya sekarang mah. Banyak nombokinnya daripada dapet,” kata dia.
“Buat kita 50 ribu, kadang-kadang ga dapet sama sekali kadang dapat 10 ribu. Tombokannya kebanyakan uang saya,” jelasnya.
Sutanda pernah merasakan tidak mendapat penumpang sama sekali. Dia memutuskan kembali ke rumah dengan rasa perasaan kelabu. “Udah diem di rumah, nunduk,” jelas dia.
Baca Juga:Brother Chang Dibuka di Bandung, Perpaduan Cita Rasa Asia dan Kisah InspiratifBelanja di Ciwalk Makin Seru, Banyak Hadiah dan Promo Romantis
Kadang dirinya merasa malu dengan bos Angkot jika tidak membawa setoran yang cukup. Ia harus mendengar celotehan sang bos sampai kupingnya memerah. “Kan diomong kita mah, rebing kuping. Mau gimana lagi, udah ga ada, ga ada,” ujarnya.
Kendati begitu, dirinya sama sekali tidak menyerah menjadi sopir Angkot. Ia tetap menggencarkan strateginya untuk memperoleh rezeki dari setiap kilometer yang ditempuh.
Saat lebaran maupun libur sekolah, ia kerap kali menerima sewaan dari masyarakat. Pendapatannya sehari pada waktu tersebut bisa menyentuh Rp 200 ribu.
“Kalau (pendapatan) gede mah paling hari-hari tertentu doang, lebaran, liburan sekolah. Bisa dapet 200 sehari,” jelasnya.
Saat tidak ada hari biasa, ia mengaku kalah telak dari ojek online (ojol) karena jarang sekali mendapatkan sewa seperti lebaran maupun libur sekolah.
“Susah sewanya, kalah. Sebelum ada (kendaraan) online, Angkot jagonya. Angkot matinya sama online, penumpang udah pindah,” ujarnya.
Meski menyadari hal tersebut, Sutanda masih percaya bisa memeperoleh rezeki dari besi tua yang ia kendarai setiap harinya.
