Bara Hidro, Urban Farming di Suka Asih yang Hasilkan Manfaat Ekonomi bagi Warga

Pekerja memeriksa tanaman hidroponik pakcoy yang ditanam di atap rumah Bara Hidro di Jalan Babakan Ciparay
Pekerja memeriksa tanaman hidroponik pakcoy yang ditanam di atap rumah Bara Hidro di Jalan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Selasa (13/1)/Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

Pola tanam diatur agar panen berlangsung rutin tiga kali dalam sepekan. Hasil panen dikirim ke Borma dan Tosama. “Sehingga kita panen setiap minggu itu 3 kali. Setiap hari Selasa, kemudian Kamis, dan Sabtu,” ujarnya.

Dalam sebulan, total produksi bisa mencapai 240 kilogram sayuran. Sementara itu sekali panen, produksi mencapai 70–80 kemasan.

“Artinya 1 pack itu 250 gram. Kalau misalkan 80 berarti kita rata-rata per kali panen itu sekitar 20 kilo,” kata Kartib.

Baca Juga:Persib Hampir Full Team, Maung Bandung Siap Menggila di El Clasico IndonesiaBukan Sekadar Tiga Poin, Marc Klok Tegaskan Duel Persib vs Persija Soal Harga Diri Kota

Menurutnya, kegiatan ini sudah memberikan keuntungan ekonomi meski belum optimal. “Kalau untung sih ada secara ekonomi, tapi ini tujuan awalnya kita sebenarnya bukan ke profit, tapi ke benefit,” ujarnya.

Manfaat itu antara lain pengurangan sampah rumah tangga dan peningkatan nilai tambah melalui pengolahan kompos. Namun dia mengatakan skala produksi saat ini masih terbatas.

Adapun untuk meningkatkan omzet, Bara Hidro melibatkan warga sekitar dalam budidaya organik. Hasil panen warga kemudian dibeli kembali dan dipasarkan dengan merek Bara Hidroponik.

“Sehingga untuk pengembangannya kita juga berkolaborasi dengan teman-teman di sana. Pelibatan warga, warga untuk organiknya,” ujarnya.

Kartib menilai program pertanian perkotaan perlu dirancang terintegrasi dari hulu ke hilir agar berkelanjutan. Menurutnya, sektor pertanian pangan di perkotaan memiliki prospek jangka panjang.

“Ketika kita membuat satu program, harus terintegrasi. Dari mulai kita menyiapkan sarana produksi, kemudian juga cara budidayanya, kemudian juga cara perlakuan panen-pasar-panennya, dan juga pasarnya,” kata Kartib.

Menurutnya, kebutuhan pangan akan selalu ada. “Karena pertanian ini mungkin kelihatan seperti mudah, tapi perlu ketegunan, perlu ilmunya, perlu teknologinya, perlu inovasinya. Tubuh manusia harus makan, harus ada sayurnya, harus sehat,” pungkasnya.

0 Komentar