JABAR EKSPRES – Program urban farming di RW 07 Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, mulai memberikan manfaat ekonomi nyata bagi warga.
Kegiatan pertanian perkotaan yang dikelola Bara Hidro Urban Farming itu memadukan sistem hidroponik dan organik, serta melibatkan warga sekitar dalam proses budidaya hingga pemasaran.
Owner Bara Hidro Urban Farming, Kartib Bayu, mengatakan inisiatif tersebut berawal dari persoalan lingkungan dan keterbatasan lahan.
Baca Juga:Persib Hampir Full Team, Maung Bandung Siap Menggila di El Clasico IndonesiaBukan Sekadar Tiga Poin, Marc Klok Tegaskan Duel Persib vs Persija Soal Harga Diri Kota
“Bara Hidro itu sebetulnya kita berdiri dari tahun 2022. Awalnya kita melihat bahwa permasalahan sampah, kemudian juga lingkungan, pemanfaatan lahannya,” kata Kartib kepada Jabar Ekspres di kediamannya, Selasa (13/1).
Pada tahap awal, budidaya dilakukan secara sederhana menggunakan pot dan polybag. Tanaman yang dikembangkan antara lain tomat, cabai, dan seledri. Seiring perkembangan, keterbatasan air dan media pupuk menjadi tantangan, terlebih lokasi kebun berada di lantai empat.
“Sehingga kita berpikir bagaimana kita cara untuk menghemat air, kemudiannya tidak banyak menggunakan media tanah, karena ini di lantai 4,” ujar Kartib.
Dirinya menjelaskan, mulai dari situ, Bara Hidro mengembangkan sistem hidroponik, meski tetap mempertahankan pertanian organik.
“Walaupun sekarang kita ada 2 pola, yang hidroponik dan yang organik. Kalau hidroponik kita pure medianya menggunakan air, kemudian kalau yang organik masih menggunakan media tanah, media tanah dan pupuk,” katanya.
Pupuk organik berasal dari pengolahan sampah rumah tangga dan sisa makanan warga. “Pupuknya diambil dari sampah-sampah rumah tangga, dan sisa-sisa makanan dibuat kompos kemudian jadi pupuk,” ucap Kartib.
Adapun pada sistem hidroponik, air digunakan secara sirkulasi untuk efisiensi.Produksi pertanian ini kemudian diarahkan untuk memenuhi pasar ritel modern.
Baca Juga:Di Bawah Kepemimpinan Prabowo, Mentan Amran Antar Indonesia Capai Swasembada Pangan 2025Meski Pincang, Macan Kemayoran Pede Tantang Persib di GBLA
Kartib mengatakan Bara Hidro mulai bekerja sama dengan Borma sejak memastikan kuantitas, kualitas, dan keberlanjutan produksi. “Nah, yang ketiga, keberlanjutan, kontinuitas,” ujarnya.
Untuk tanaman hidroponik, produksi dimulai sejak 2023. Komoditas yang dikembangkan antara lain kangkung, pakcoy, dan selada karena siklus panennya singkat.
“Ini kita ada kakung, kangkung itu dari mulai tanam sampai panen cukup 3 minggu,” ujar Kartib.
