Rumah tersebut memiliki beranda depan yang luas, kamar-kamar di sisi bangunan, serta ruang keluarga di tengah dengan tiga kamar tidur berlangit-langit tinggi berbahan pelat eser dan papan kayu jati.
Di bagian belakang terdapat achter galerij, area khusus pembantu yang terhubung dengan dapur dan kamar mandi.
Di sisi kanan berdiri paviliun, sementara bagian belakang menyatu dengan kebun. Di bagian depan, dahulu berdiri sebuah pendopo yang kerap digunakan untuk pagelaran wayang kulit setiap perayaan Maulid Nabi. Pendopo itu kemudian dirobohkan pada 1982.
Baca Juga:Pemkab Bogor Wacanakan Ruislag Aset dengan Pemprov JabarRelawan PNM Kembali Turun Langsung Salurkan Bantuan dan Kuatkan Korban Bencana
“Bangun rumah di sini sekitar tahun 1918 dan selesai itu tahun 1921, pas mertua saya lahir,” ujar Dewi sembari mengenang.
Kehidupan Wongso tidak berhenti pada urusan dagang. Ia aktif dalam Sarekat Islam yang dipimpin HOS Tjokroaminoto, bahkan dipercaya sebagai bendahara.
Rumahnya di Jalan Bapa Ampi kerap menjadi tempat persinggahan tokoh-tokoh pergerakan.
Dari aktivitas itulah, Wongso mengenal Soekarno muda, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan. Bung Karno disebut pernah singgah, shalat, dan berbincang santai di rumah Wongso di Baros.
“Bung Karno pernah ke sini, shalat di sini, ngobrol biasa. Kapannya saya kurang tahu, tapi sebelum jadi presiden. Kemudian Rahmawati ke sini, napak tilas datang ke sini. Kita diajak ke Banceuy,” ucap Dewi.
Pada era 2010-an, Rahmawati Soekarnoputri juga menyambangi rumah tersebut saat menelusuri jejak perjuangan ayahnya di Cimahi dan Bandung, mengajak keluarga Wongso ikut napak tilas ke kawasan Banceuy.
Masa pendudukan Jepang hingga agresi militer Belanda menjadi babak kelam bagi keluarga Wongso.
Baca Juga:De Braga by ARTOTEL Resmi Perkenalkan General Manager Baru dan Raih Sertifikasi GSTC20 Delegasi Internasional Hadir di Bandung, JCI Dorong Kolaborasi Bisnis Berkelanjutan
Anak-anaknya, seperti Sutjinem, Sutjinah, dan Kartono Abuchaer, terlibat langsung dalam perjuangan. Sutjinem dan Sutjinah aktif di Laswi dan Palang Merah Indonesia, bergerak di bawah bayang-bayang kejaran tentara Belanda. Bahkan, salah satu cucu Wongso sempat disandera.
Rumah di Baros pun tak luput dari amukan perang. Bangunan tersebut pernah terbakar akibat serangan Belanda. Pada 1948, Wongso ikut hijrah ke Yogyakarta bersama Divisi Siliwangi. Ia wafat di kota itu pada usia 68 tahun.
Saat keluarga kembali ke Cimahi, rumah telah dijarah. Guci-guci besar, lampu kristal, dan perabot berharga lenyap tanpa jejak.
