Rumah Wongso Abuchaer di Baros Akan Dijual, Jejak Sejarah Pergerakan Terancam Hilang

Rumah bersejarah milik Wongso Abuchaer, sahabat dekat Bung Karno di Cimahi, beralamat di Jalan Bapa Ampi, Baro
Rumah bersejarah milik Wongso Abuchaer, sahabat dekat Bung Karno di Cimahi, beralamat di Jalan Bapa Ampi, Baros, Cimahi, yang kini menjadi saksi bisu sejarah pergerakan nasional dan pernah disinggahi Soekarno muda sebelum menjadi presiden, dengan rumah bergaya Belanda ini kini masih berdiri meski akan dijual. (Dok: Jabar Ekspres)
0 Komentar

Harta Wongso kemudian dibagi kepada anak-anaknya. Sebagian menerima rumah di Jalan Lurah, Gang Rangsom, Gatot Subroto, hingga Kebon Sari. Kartono Abuchaer, ayah Dewi, memperoleh rumah dan lahan di Baros.

Bahkan, lahan tempat Bank BCA Cimahi kini berdiri, dahulu merupakan bagian dari aset Wongso Abuchaer.

Kini, rumah tua itu hanya dihuni Dewi Indraprasti dan suaminya, H. Tiswara, pensiunan PJKA. Usia yang kian renta dan tidak adanya penerus membuat keluarga akhirnya sepakat menjual rumah tersebut.

Baca Juga:Pemkab Bogor Wacanakan Ruislag Aset dengan Pemprov JabarRelawan PNM Kembali Turun Langsung Salurkan Bantuan dan Kuatkan Korban Bencana

Keputusan itu memunculkan kekhawatiran di kalangan pegiat sejarah. Ketua Komunitas Tjimahi Heritage, Machmud Mubarok, menilai Wongso Abuchaer layak diabadikan sebagai nama jalan di Cimahi, mengingat perannya dalam perdagangan lokal dan perjuangan kemerdekaan.

Ia mengingatkan, rumah Wongso bukan sekadar bangunan tua, melainkan lapisan sejarah yang mencatat pergerakan nasional, penjarahan masa perang, hingga singgahnya Bung Karno.

Machmud mengatakan,dengan segala perjuangan dan kontribusinya, ia menilai nama Mbah Wongso pantas untuk mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Seperti disematkan sebagai nama jalan di Kota Cimahi.

“Saya kira pantas beliau untuk diabadikan sebagai nama jalan, seperti pejuang lainnya dari Cimahi,” kata Machmud.

Dia mengatakan, rumah Mbah Wongso yang pernah disinggahi Bung Karno itu sempat jadi sasaran penjarahan ketika Belanda berhasil menguasai kembali Cimahi sebagai garnisun tahu 1948.

Ketika itu Divisi Siliwangi harus hijrah, Machmud menceritakan, Mbah Wongso termasuk warga biasa yang ikut hijra ke daerah asalnya di Yogyakarta. Bak sebuah firasat, saudagar kaya itu meninggal dunia di tanah kelahirannya.

“Mbah Wongso meninggal di Jogja diiperkirakan dalam usia 68 tahun,” tutur Machmud. (Mong)

Laman:

1 2 3
0 Komentar