Rumah Wongso Abuchaer di Baros Akan Dijual, Jejak Sejarah Pergerakan Terancam Hilang

Rumah bersejarah milik Wongso Abuchaer, sahabat dekat Bung Karno di Cimahi, beralamat di Jalan Bapa Ampi, Baro
Rumah bersejarah milik Wongso Abuchaer, sahabat dekat Bung Karno di Cimahi, beralamat di Jalan Bapa Ampi, Baros, Cimahi, yang kini menjadi saksi bisu sejarah pergerakan nasional dan pernah disinggahi Soekarno muda sebelum menjadi presiden, dengan rumah bergaya Belanda ini kini masih berdiri meski akan dijual. (Dok: Jabar Ekspres)
0 Komentar

Di tengah hamparan sawah dan kebun kelapa yang dulu sunyi di kawasan Baros, Cimahi, berdiri sebuah rumah tua bergaya Hindia Belanda.

Firman Satria, Jabar Ekspres

Selama lebih dari satu abad, bangunan itu menjadi saksi denyut awal perdagangan lokal, pergerakan nasional, hingga jejak langkah tokoh-tokoh penting republik. Kini, rumah peninggalan saudagar sekaligus tokoh Sarekat Islam, Wongso Abuchaer berada di ambang perpisahan.

Keluarga besar Wongso Abuchaer memutuskan menjual rumah bersejarah tersebut. Keputusan berat itu lahir dari kenyataan usia yang kian sepuh dan ketiadaan generasi penerus yang sanggup merawatnya.

Baca Juga:Pemkab Bogor Wacanakan Ruislag Aset dengan Pemprov JabarRelawan PNM Kembali Turun Langsung Salurkan Bantuan dan Kuatkan Korban Bencana

Di balik keputusan itu, tersimpan dilema panjang antara keterbatasan keluarga dan nilai sejarah yang melekat pada setiap sudut bangunan.

“Berat sebetulnya, tapi tidak ada yang mau melanjutkan menjaga rumah. Kami sudah sepuh,” ujar Dewi Indraprasti, cucu Wongso Abuchaer, saat ditemui, Selasa (6/1/26).

Rumah itu bukan sekadar hunian. Ia adalah jejak hidup seorang perantau dari Kotagede, Yogyakarta, yang datang ke Cimahi pada akhir abad ke-19 sebagai pedagang kecil, lalu tumbuh menjadi saudagar besar dan simpul penting pergerakan nasional.

Wongso mengawali hidupnya di Cimahi sebagai bakul sandal kayu dan klompen Jawa di Pasar Antri, yang kala itu masih berupa bedeng-bedeng sederhana. Ia tinggal di kawasan Gang Rangsom, menjajakan dagangannya dari satu lapak ke lapak lain.

Sekitar akhir abad ke-19 hingga awal 1900-an, Wongso perlahan mengembangkan usahanya. Selain sandal dan bakiak, ia mulai membawa batik dari Yogyakarta. Kerja keras dan ketekunannya mengantarkan Wongso menjadi saudagar yang disegani di Pasar Antri, dengan sejumlah lapak dagang.

Usahanya terus berkembang. Ia kemudian menyuplai bahan kebutuhan pokok seperti beras, tepung, dan gula ke tangsi-tangsi tentara. Dari hasil usahanya pula, Wongso membeli lahan di Baros dan mendirikan pasar yang hingga kini masih dikenal masyarakat.

“Usahanya maju di sini, kemudian keluarga bahkan saudara dibawa ke sini. Beliau termasuk yang mendirikan Pasar Antri,” kata Dewi.

Baca Juga:De Braga by ARTOTEL Resmi Perkenalkan General Manager Baru dan Raih Sertifikasi GSTC20 Delegasi Internasional Hadir di Bandung, JCI Dorong Kolaborasi Bisnis Berkelanjutan

Di kawasan Baros selatan Garnisun Cimahi, Wongso membeli lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi. Di atasnya, ia membangun rumah permanen bergaya Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), arsitektur khas Hindia Belanda yang kala itu menjadi simbol kemapanan.

0 Komentar