Kekecewaan petani semakin memuncak karena penetapan sentra IKM gula merah tersebut dinilai tidak melalui proses kajian yang komprehensif dan partisipatif. Para pelaku utama, yaitu petani penghasil gula aren, merasa tidak dilibatkan dalam proses perencanaan.
Akibatnya, kebijakan yang diluncurkan dianggap tidak menyentuh akar persoalan dan kebutuhan riil di lapangan. Kelompok tani justru melihat ancaman, dimana kebijakan ini dapat membuka ruang bagi produk-produk gula campuran untuk berlindung di bawah payung ‘sentra gula merah Mekarmulya,’ sehingga secara perlahan menggerus pasar dan reputasi gula aren murni yang mereka bangun dengan susah payah.
Selain itu, perhatian pemerintah dinilai masih kurang terhadap masalah mendasar yang dihadapi petani. Persoalan seperti peningkatan kapasitas produksi dan pengemasan, perlindungan dari peredaran produk tiruan atau palsu, serta pembukaan akses pasar yang lebih luas dan berkelanjutan untuk gula aren murni, dianggap lebih urgent daripada sekadar penamaan sentra industri.
Baca Juga:Ono Surono Dukung Sawit di Jabar Diganti Komoditas Lain: Petani dan Perusahaan SepakatTingkatkan Kesejahteraan Petani, Kota Banjar Realisasikan Program Berdaya Pangan
Padahal, komoditas aren murni memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ikon ekonomi hijau Kabupaten Ciamis yang bernilai jual tinggi di pasar nasional maupun internasional.
“Kami tidak menolak pembangunan ataupun program pemerintah. Yang kami harapkan adalah kebijakan yang berpihak pada petani, berbasis data, serta menghormati realitas di lapangan. Mekarmulya bukan sentra gula merah, melainkan sentra gula aren,” tegas Peri Heryanto.
Sebagai langkah ke depan, Kelompok Petani Aren Taruna Mandiri mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis untuk mengevaluasi kebijakan penetapan sentra IKM tersebut. Mereka meminta dilakukannya pelurusan terminologi dan penentuan klaster industri yang benar-benar sesuai dengan potensi dan identitas wilayah.
“Dialog konstruktif yang melibatkan petani sebagai subjek utama menjadi hal yang mutlak diperlukan untuk menyusun roadmap pengembangan komoditas aren yang tepat guna,” katanya. (CEP)
