Ketimpangan Sosial di Jabar Masih Tinggi, Ini Jurus Pemda Turunkan Angka Kemiskinan Ekstrem

Ketimpangan Sosial di Jabar Masih Tinggi, Ini Jurus Pemda Turunkan Angka Kemiskinan Ekstrem
MENCARI NAFKAH: Seorang pemulung menarik gerobak yang berisi tumpukan barang bekas di Jalan Prabu Dimuntur, Kota Bandung. (Foto: DIMAS RACHMATSYAH/JABAR EKSPRES)
0 Komentar

Keluhan serupa disampaikan Zaelani, warga Kampung Pasirwangi bernasib sama. Dia menggantungkan hidup dari kerajinan layangan. Ia menyebut, saat musim hujan, harga layangan jatuh drastis.

“Satu layangan dijual ke bandar cuma Rp300, itu jauh dari layak,” kata Zaelani.

Menurutnya, proses pembuatan layangan membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.

Baca Juga:Kemiskinan Ekstrem di Jabar: Data BPS Belum Update!Jutaan Warga Jabar Masih Melarat, Dedi Mulyadi Tak Punya Program Konkret atasi Kemiskinan?

“Kita harus cari bambu, beli kertas, lem. Belum tenaga motong, ngerakit. Tapi hasilnya nggak sebanding,” ujarnya.

Zaelani menegaskan, bantuan sosial bukan solusi jangka panjang bagi warga Kampung Pasirwangi.

“Kami nggak minta dikasih terus. Yang dibutuhkan itu modal usaha, pelatihan, pendampingan. Biar UMKM layangan ini bisa berkembang,” katanya.

Ia berharap program pengentasan kemiskinan ke depan lebih berpihak pada pemberdayaan.

“Kalau ada modal dan pasar yang jelas, kami bisa mandiri,” tegasnya.

Kondisi ini dibenarkan oleh Ketua RT 02 RW 06 Kampung Pasirwangi, Bah Amin (69). Menurutnya, 80 kepala keluarga (KK) dengan lebih dari 100 jiwa, sekitar 90 persen menggantungkan hidup dari layangan dan berjualan kecil-kecilan.

“Di sini mah hampir semuanya bikin layangan atau jualan opak, ladu, tahu, ketan,” ujar Bah Amin. (mong/wit/yan)

0 Komentar