Wamen PU Dorong Pembangunan Infrastruktur Ramah Lingkungan, Alam Jangan Dilawan 

Wakil Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, Diana Kusumastuti, saat berada di Kebun Raya Bogor, Selasa (2
Wakil Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, Diana Kusumastuti, saat berada di Kebun Raya Bogor, Selasa (28/7/2026). Foto: Sekar Andini
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Wakil Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, Diana Kusumastuti, menegaskan pembangunan infrastruktur tidak lagi cukup berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga harus mengedepankan kelestarian lingkungan melalui pendekatan yang selaras dengan alam.

Ia menyebut, perubahan iklim, urbanisasi, serta menurunnya kualitas lingkungan membuat pembangunan infrastruktur kini tidak lagi cukup hanya berorientasi pada pembangunan fisik.

Hal itu disampaikan Diana saat membuka International Lecture Series bertema Horticulture as the Living Infrastructure for Sustainable Landscape di Griya Anggrek, Kebun Raya Bogor, Selasa (28/7/2026).

Baca Juga:24th Annual National Summer Classic 2026: Tim Putri DBL All-Star Juara, Putra Peringkat TigaMilangkala ke-394 Kabupaten Tasikmalaya Hadirkan Puluhan Agenda, Puncak Perayaan Digelar 24–26 Juli 2026

“Pendekatan pembangunan itu harus bertransformasi. Tidak lagi sekadar membangun fisiknya saja, tidak hanya membangun beton-betonnya saja, tetapi harus memikirkan bagaimana lingkungannya tetap terjaga, bagaimana penciptaan suatu ruang hidup yang bermakna, berkelanjutan, inklusif, dan selaras dengan lingkungan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Diana mengatakan konsep Nature-based Solutions kini perlu diterapkan dalam perencanaan infrastruktur agar pembangunan tetap selaras dengan kondisi alam.

Melalui konsep tersebut, alam dipandang sebagai bagian dari solusi, bukan hambatan pembangunan.

“Alam jangan dilawan, tetapi harus kita ikuti. Sungai jangan dibelok-belokkan. Banyak sungai yang dulunya lebar, sekarang menyempit karena pembangunan,” katanya.

“Akhirnya ketika banjir kita justru menyalahkan sungainya, marah karena air banjir nabrak rumah. Padahal jangan salahkan sungainya, salahkan kita yang membangun di depan sungai. Hal-hal seperti ini yang harus kita sesuaikan ke depan,” imbuhnya.

Prinsip yang sama juga harus diterapkan dalam pembangunan di kawasan berhutan.

Diana mengingatkan, proses pembangunan tidak boleh dilakukan dengan menebang seluruh pohon, melainkan hanya vegetasi yang benar-benar terdampak.

Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Ajak Semua Elemen Wujudkan Zero Stunting, Tekankan Pencegahan Agar Tak Ada Kasus BaruSPP Sekolah Negeri Hanya Fatamorgana, Jabar Mampu Gratiskan Hingga Swasta!

“Kalau membangun jangan menebangi seluruh pohon. Yang terdampak bangunan saja yang dipangkas. Jadi yang lainnya ya biarkan saja. Nanti tinggal kita atur flow-nya seperti apa, mana yang harus diatur kembali, tetap pohon itu tetap ada. Pohon-pohon yang sudah besar itu butuh waktu lama untuk tumbuh,” ujarnya.

Pembangunan infrastruktur, kata Diana, harus bertumpu pada tiga pilar utama, yakni kualitas, keberlanjutan lingkungan, dan estetika.

Ketiga aspek tersebut harus berjalan beriringan agar infrastruktur tidak hanya berfungsi dengan baik, tetapi juga menghadirkan ruang publik yang nyaman, membentuk identitas kawasan, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

0 Komentar