Kanvas Menjadi Ruang Hidup: Jejak Panjang Bahar Malaka, Pelukis Cimahi Menghadirkan Filosofi di setiap Karya

Kanvas Menjadi Ruang Hidup: Jejak Panjang Bahar Malaka, Pelukis Cimahi Menghadirkan Filosofi di setiap Karya
Bahar Gunawan atau Akrab Disapa Bahar Malaka, Seniman Lukis asal Cimahi saat Menunjukkan Beberapa Hasil Mahakarya nya pada Jabar Ekspres (Monk)
0 Komentar

“Dan saya bangga, Soekarno dan teman-temannya bisa menyatukan menjadi NKRI ini,” sambungnya.

Bahar sadar betul keterbatasannya sebagai pelukis otodidak. Ia bukan akademisi, sehingga ia memilih memperkuat sisi lain dari karyanya.

“Jujur saja saya ini otodidak yang tidak mempelajari ilmu khusus di bidang ini. Bisa dibayangkan berapa banyak seniman lukis yang dibuang ke jalan dari universitas-universitas di negeri ini,” katanya.

Baca Juga:Deteksi Dini Gangguan Penglihatan, Pemeriksaan Mata Gratis Digelar Serentak di CimahiPesan Persatuan dari Sangkuriang Festival, Ketua DPRD Cimahi Tegaskan Dukungan Penuh untuk Ruang Kebudayaan

Namun baginya, hidup dan berproses adalah jawaban utama. Ia tidak terobsesi semata pada hasil akhir.

“Kita bisa hidup, bisa berproses, jawaban mah itu nomor sekian. Kita berproses yang cantik saja. Karya bagus itu sangat banyak, mungkin ratusan ribu, apalagi di zaman sekarang media sosial,” bebernya.

Menurut Bahar, perubahan zaman memang mengubah peluang seniman. Namun energi dan semangat sejatinya tetap sama. Siapa pun yang fokus dan konsisten, akan menemukan jalannya.

“Yang terpenting selalu ada karya bersama waktu itu. Selalu ada karya. Karena kita diberi kesempatan waktu, kita diberi waktu untuk menyikapi hidup ini, untuk berkreasi di hidup ini,” tuturnya.

Waktu, lanjut Bahar, adalah anugerah yang tak bisa diulang. Selama masih diberi kesempatan, ia mengajak siapa pun untuk berani melangkah.

“Soal persaingan, kita tidak perlu takut. Fokus dan tidak setengah-setengah. Teori bisa saja berbeda dengan praktik di lapangan, dan itu menjadi pencarian dalam hidup,” ujarnya.

Ia meyakini, kebebasan dalam berkarya justru lahir ketika seseorang tidak merasa terpenjara oleh ketakutan akan saingan.

Baca Juga:Warna-Warni Nusantara di Jantung Cimahi, Ragam Etnis Tampil dalam Sangkuriang Festival 2025Masteci Bangun Panggung Inklusif di Cimahi, dari Teater Tuli hingga Drama Musikal ‘Impian Tak Terlihat’

“Alhamdulillah Tuhan mendukungnya pasti. Saya masih percaya diri dan akan selalu percaya dalam ruang ini. Karena ini berkaitan dengan waktu, kita bisa bersilaturahmi, bisa ngopi bareng,” ucapnya penuh syukur.

Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah ketika ia berkarya untuk Kota Cimahi. Dengan keberanian dan keyakinannya, Bahar menciptakan 17 lukisan dalam waktu 45 menit sebuah simbol dari tahun kemerdekaan Indonesia.

“Itu karyanya sold, sehingga aku bisa berbagi dengan teman-temanku, pemusik, atau security,” kenangnya.

Ia menyimpan satu dari 17 lukisan tersebut sebagai pengingat. Jika eksperimen itu gagal, ia mengakui, bisa saja menghancurkan perjalanan panjangnya sebagai seniman. Namun ia percaya, perjuangan selalu menuntut pengorbanan.

0 Komentar