Ia bersyukur, hingga hari ini aktivitas berkesenian yang dijalaninya tidak berada di bawah tekanan pihak mana pun. Hambatan memang selalu hadir, tetapi bagi Bahar, justru dari situlah kekuatan lahir.
“Tapi Alhamdulillah sampai hari ini, saya melakukan aktivitas berkesenian itu tidak ada under pressure dari sisi lain. Kadang ada hambatan juga, tapi hambatan itu salah satu jadi kekuatan untuk kita melepaskan diri dari hambatan tadi,” sambungnya.
Sambil menyeruput kopi hitam, Bahar berkisah tentang puluhan tahun perjalanan yang ia lalui sebagai pelukis. Melukis, baginya, adalah proses pencarian tanpa henti.
Baca Juga:Deteksi Dini Gangguan Penglihatan, Pemeriksaan Mata Gratis Digelar Serentak di CimahiPesan Persatuan dari Sangkuriang Festival, Ketua DPRD Cimahi Tegaskan Dukungan Penuh untuk Ruang Kebudayaan
“Profesiku kebetulan dipercaya untuk berprofesi seni murni, tepatnya seni lukis. Itu pun dalam masa tahap pencarian. Dan ternyata melukis itu, semakin kita pelajari, banyak hal-hal yang tidak kita ketahui,” katanya.
Apakah perjalanan itu mudah? Bahar menggeleng. Baginya, karya adalah hasil dari pergulatan batin yang panjang. Dari sesuatu yang semula maya, lalu menjelma nyata di atas kanvas.
“Di sini menjadi buah karya. Yang tadinya maya, tapi sakitnya itu jadi nyata, jadi sebuah karya. Sehingga saya bisa berbagi dengan teman-teman, minimal saya bisa menginformasikan juga,” ucapnya.
Segalanya selalu berawal dari ide. Ia menyadari, banyak seniman kerap terjebak pada perasaan kehilangan mood. Namun Bahar memilih sikap berbeda.
“Karena dengan tidak adanya ide, yoo human being, bangunlah ide-mu itu, bangkitkan kreatif-mu,” katanya santai.
Menurutnya, ide harus dipancing dan dibangun. Tanpa ide, tak akan lahir karya. Dan karya tanpa narasi, bagi Bahar, hanya akan menjadi hiasan dinding tanpa makna.
“Karena seni lukis itu jika tidak ada filosofinya, hanya kerajinan saja atau hiasan saja,” tegasnya.
Baca Juga:Warna-Warni Nusantara di Jantung Cimahi, Ragam Etnis Tampil dalam Sangkuriang Festival 2025Masteci Bangun Panggung Inklusif di Cimahi, dari Teater Tuli hingga Drama Musikal ‘Impian Tak Terlihat’
Salah satu karya yang ia tunjukkan adalah lukisan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno. Bahar menegaskan, ia tidak bermaksud menampilkan kehebatan atau prestasi secara berlebihan. Ia hanya mengambil satu titik penting, peran Soekarno dan para pendiri bangsa dalam menyatukan wilayah Nusantara.
“Sebagai tanda terima kasihku, sebagai warga negara Indonesia, saya mengapresiasinya dengan potret atau figur Soekarno. Karena kalau kita bercerita Nusantara, saya rasa di planet ini tidak ada yang pulaunya 17.000 lebih,” ujarnya dengan nada bangga.
