“Untuk siapa? Untuk Cimahi. Orang saya tinggal di Cimahi,” katanya lugas.
Bagi Bahar, pencapaian terbesar bukanlah pameran atau penjualan karya, melainkan masih diberi kesempatan bangun pagi, sebuah anugerah waktu dari Tuhan.
“Alhamdulillah saya masih mampu melakukan aktivitas berkesenian di akhir pergantian tahun ini,” ucapnya.
Baca Juga:Deteksi Dini Gangguan Penglihatan, Pemeriksaan Mata Gratis Digelar Serentak di CimahiPesan Persatuan dari Sangkuriang Festival, Ketua DPRD Cimahi Tegaskan Dukungan Penuh untuk Ruang Kebudayaan
Kepada para seniman muda, Bahar berpesan agar tidak takut pada sistem. Bertahan hidup adalah soal pilihan, namun karya harus tetap memiliki cerita.
“Fasilitas bisa dicari, tapi kreativitas harus digali. Karyamu itu salah satu anugerah yang Tuhan beri. Tidak semua orang mendapatkannya,” pesannya.
Ia mencontohkan, ada seniman yang bekerja sebagai sopir atau pemandu wisata demi menjaga proses berkaryanya. Baginya, yang terpenting adalah karya itu ada dan terus hidup.
“Dilatiih terus, praktis terus. Bersahabatlah dengan IT, karena ini eranya sudah seperti begini. Itu fasilitas untuk kinerja kita,” tutup Bahar, sambil kembali menyeruput kopi hitam yang setia menemaninya. (Mong)
