Pemkab Sumedang Sabet Penghargaan Transformasi Digital di Tengah Maraknya Kejahatan Siber AI

Pemerintah Kabupaten Sumedang mengamankan penghargaan transformasi digital dalam ajang Bandung Digital Safety
Pemerintah Kabupaten Sumedang mengamankan penghargaan transformasi digital dalam ajang Bandung Digital Safety Forum (BDSF) 2026
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah Kabupaten Sumedang mengamankan penghargaan transformasi digital dalam ajang Bandung Digital Safety Forum (BDSF) 2026 di Pendopo Wali Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum, Kamis, 29 Oktober 2026.

Capaian ini diraih atas keberhasilan penerapan sistem pemilihan kepala desa secara elektronik atau e-voting Pilkades di 92 desa.

Namun, capaian digitalisasi di tingkat desa tersebut berhadapan langsung dengan ancaman kejahatan siber berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mengintai transaksi keuangan masyarakat.

Baca Juga:PT PPB Bakal Laporkan Dugaan Pembongkaran Pagar Revitalisasi Taman Bugar ke Polrestabes BandungWajah Baru DPUTR KBB Anni Roslianti Pengemban Misi AMANAH

Forum yang digagas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat bersama Jurnalis Hukum Bandung (JHB) serta didukung Bank Rakyat Indonesia (BRI) ini menyoroti integrasi keamanan teknologi.

Di Jawa Barat, tercatat ada sekitar 8,43 juta merchant pengguna QRIS yang rentan terhadap manipulasi transaksi digital, bukti transfer palsu, hingga pengambilalihan akun.

Wakil Bupati Sumedang M. Fajar Aldila menerima langsung penghargaan tersebut dari Ketua PWI Jabar Tantan Sulthon.

Menurutnya, peran media juga kami nilai sangat vital dan memiliki tugas yang semakin berat di era sekarang.

Media tidak hanya bertanggung jawab menyajikan informasi, tetapi juga wajib memberikan literasi, edukasi, serta perlindungan bagi Masyarakat.

‘Ini agar terhindar dari paparan hoaks dan penggiringan opini yang tidak bertanggung jawab,” kata M. Fajar Aldila, Kamis, (29/10/2026)

Fajar menambahkan bahwa penerapan e-voting di 92 desa harus diimbangi pendampingan bagi kelompok lanjut usia agar pemanfaatan teknologi berjalan inklusif dan aman.

Ancaman Penipuan Berbasis AI Mengintai Sektor Finansial

Baca Juga:Aksi Nyata Pussenkav Rehab Panti Asuhan dan Kebutuhan Anak Yatim di BandungStrategi Pembenahan Rantai Pasok dan Suntikan Modal Perbankan Dongkrak Kinerja Pelaku Usaha Pakaian Anak

Dari sudut pandang regulasi pusat, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengungkapkan bahwa penetrasi kejahatan siber kini bergeser menggunakan voice cloning dan rekayasa deepfake.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tercatat lebih dari 608 ribu laporan penipuan masuk melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) hingga Juni 2026.

Korban kejahatan ini tidak mengenal latar belakang, mulai dari masyarakat umum, pelaku usaha, aparat penegak hukum, akademisi, bahkan jurnalis sendiri.

‘’Artinya, tingginya literasi tidak otomatis membuat kita aman. Kewaspadaan harus menjadi kebiasaan,” ujar Nezar Patria, secara daring.

Nezar mengingatkan agar publik menerapkan mekanisme verifikasi berjenjang saat bertransaksi. Masyarakat perlu membiasakan prinsip verifikasi manusia (human verification), cek ulang, konfirmasi lewat kanal resmi.

0 Komentar