JABAR EKSPRES – Di sudut Kota Cimahi, ada seorang seniman yang menjalani hidup dengan cara yang sunyi namun penuh makna. Ia mendedikasikan hari-harinya pada seni lukis, menjadikan kanvas sebagai ruang berdialog dengan waktu, pengalaman, dan keyakinan. Dialah Bahar Gunawan, atau yang lebih akrab disapa Bahar Malaka.
Dari teras rumahnya, alunan musik reggae terdengar mengalir pelan. Dinding-dinding rumah dipenuhi lukisan, masing-masing menyimpan cerita dan filosofi. Rambut gimbal yang menjadi ciri khasnya seolah menegaskan identitas Bahar sebagai seniman yang hidup dengan caranya sendiri. Di tempat itulah, ia menceritakan perjalanan panjangnya menekuni seni lukis, sebuah jalan hidup yang tak ia rencanakan sejak awal.
Bahar mengaku, seni lukis bukanlah cita-cita yang sejak kecil ia targetkan. Seperti kebanyakan anak-anak lain, ketika ditanya ingin menjadi apa, pilihan-pilihan umum seperti guru atau dokter kerap muncul. Namun hidup membawanya ke arah berbeda.
Baca Juga:Deteksi Dini Gangguan Penglihatan, Pemeriksaan Mata Gratis Digelar Serentak di CimahiPesan Persatuan dari Sangkuriang Festival, Ketua DPRD Cimahi Tegaskan Dukungan Penuh untuk Ruang Kebudayaan
“Aku kebetulan mengalir dengan sendirinya, dan banyak hal-hal yang sebetulnya itu prosesnya tidak terkonsep dan tidak terencana. Semakin banyak yang dipelajari, semakin banyak ruang yang ditemukan dalam seni murni,” ujar pria berusia 63 tahun itu saat disambangi Jabar Ekspres di kediamannya, Senin (15/12/25).
Perjalanan itu tentu tak selalu mulus. Bahar mengakui, sejak awal ia kerap menerima sanggahan dan pandangan miring. Namun semua itu tak menggoyahkan tekadnya. Ketika beranjak dewasa, ia justru semakin mantap memilih seni rupa sebagai ruang hidupnya.
“Kenapa saya tidak fokus di ruang ini, yaitu seni rupa tadi, itu setelah usiaku dewasa. Dan sebetulnya saya menginginkan pendidikan atau keilmuan di seni rupa tadi. Contohnya teori akademisi, tapi kadang-kadang saya juga, mohon maaf, kadang jumawa,” katanya sambil tertawa ringan.
Tanpa latar pendidikan formal seni rupa, Bahar menempuh jalur otodidak. Ia belajar dari jalanan, dari pertemuan, dari pengamatan, dan dari proses panjang yang ia lalui sendiri.
“Jadi saya temukan di jalanan, saya terapkan. Jadi dari latar belakang otodidak tadi saya tidak terpenjara oleh sistem. Saya bebas, saya mengalir, saya melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak saya terpikirkan,” tuturnya dengan nada filosofis.
