Naskah Khutbah Jumat Tentang Hukum Merayakan Tahun Baru Dalam Islam

ILUSTRASI merayakan tahun baru dengan kemeriahan kembang api, yang dibahas dalam naskah khutbah Jumat kali ini
ILUSTRASI merayakan tahun baru dengan kemeriahan kembang api, yang dibahas dalam naskah khutbah Jumat kali ini.
0 Komentar

Malam tahun baru tidak ada bedanya dengan malam-malam yang lainnya. Sebagaimana di malam yang biasa kita shalat tahajud, sebagaimana malam yang biasa kita membaca Al-Qur’an, demikian pula tidak ada keistimewaan sama sekali di malam pergantian tahun tersebut. Kewajiban kita adalah berusaha mempergunakan waktu semaksimal mungkin untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekatkan diri kita kepada Allah sesuai dengan syariat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Khutbah Kedua: Hukum Merayakan Tahun BaruRasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Baca Juga:Akhirnya, Pengumuman Jadwal Aktivasi dan Distribusi Internet Rakyat Dirilis, Siap-siap Dihubungi Via WA atau EBantuan PIP Segera Cair,  Pastikan Aktivasi Rekeningnya Sekarang  

Para ulama mengatakan bahwa orang yang menyerupai suatu kaum bertingkat-tingkat derajat dosanya. Apabila ia menyerupai suatu kaum karena keridhaan dia terhadap agama tersebut, maka ini menyebabkan pelakunya murtad dari agama Islam. Karena seorang muslim tak akan pernah ridha selama-lamanya kepada agama kecuali agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ…

“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam…” (QS. Ali ‘Imran[3]: 19)

Allah berfirman:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima oleh Allah. Dan ia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 85)

Akan tetapi apabila ia menyerupai mereka bukan karena keridhaan terhadap agama mereka, tapi karena ia mengikuti hawa nafsunya. Maka kata para ulama ia termasuk pelaku dosa besar. Karena ia telah menyerupai orang-orang yang tidak diridhai oleh Allah, karena ia telah berusaha mengikuti millah-millah mereka. Padahal orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepada kita sampai kita mengikuti millah mereka. Allah berfirman:

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ…

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kalian sampai kalian mengikuti millah-millah mereka…” (QS. Al-Baqarah[2]: 120)

Allah mengatakan:

وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Kalau kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang kepada kamu ilmunya, maka kamu sekali-kali tidak akan pernah mendapatkan penolong, tidak pula mendapatkan wali.” (QS. Al-Baqarah[2]: 120)

Lihatlah ayat ini, saudaraku.. Allah mengatakan bahwa kalau kita mengikuti hawa nafsu orang Yahudi dan Nasrani, maka Allah tidak akan lagi menolong kita, Allah tidak akan lagi membela kita. Bahkan bisa jadi Allah menurunkan adzabNya kepada kita.

0 Komentar