Antara Harapan dan Masa Depan, Luka di Balik Bukit Kapur Karst Citatah

Antara Harapan dan Masa Depan, Luka di Balik Bukit Kapur Karst Citatah
Dari kejauhan, bukit-bukit kapur Citatah tampak megah, berdiri seperti dinding raksasa yang menjaga kehidupan di sekitarnya sejak berabad-abad lalu. Namun semakin mendekat, keanggunan itu perlahan memudar. 
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dari kejauhan, bukit-bukit kapur Citatah tampak megah, berdiri seperti dinding raksasa yang menjaga kehidupan di sekitarnya sejak berabad-abad lalu. Namun semakin mendekat, keanggunan itu perlahan memudar.

Keindahan yang dulu memikat kini berubah menjadi potret luka lereng terbelah, tanah terkoyak, tubuh bukit tersayat oleh jalur-jalur tambang.

Setiap goresan galian meninggalkan warna pucat pada batuan yang tersingkap. Di tengah panorama alam yang seharusnya meneduhkan, Citatah memperlihatkan wajah lain rapuh, terancam, dan seolah hanya menunggu waktu untuk runtuh.

Baca Juga:Tambang Jabar Kian Brutal, Citatah Jadi Korban UtamaSatgas Citarum Harum Dibubarkan, Bupati Dadang Pertanyakan Peran BP Cekungan Bandung

Di kaki bukit, rumah-rumah berdiri rapat. Masyarakat menjalani rutinitas seperti biasa, seakan tak menyadari bahaya besar yang mengintai tepat di atas kepala mereka. Zona rawan longsor itu justru menjadi tempat ribuan keluarga membangun kehidupan.

Hanya hujan deras yang diperlukan untuk menguji seberapa kuat bukit yang terkikis itu bertahan. Setiap retakan baru menambah kegelisahan, setiap pengikisan memperbesar ancaman.

Di tengah kesibukan warga, bongkah kapur menumpuk dan suara mesin tak pernah benar-benar padam. Getaran demi getaran menjadi irama harian yang diterima begitu saja. Padahal bagi bukit yang terus tergerus, setiap getaran berarti ancaman baru yang mempercepat keruntuhannya.

Polusi udara dari pabrik-pabrik yang masih beroperasi puluhan tahun pun memperburuk suasana. Debu kapur, asap cerobong, dan bau industri melebur menjadi satu, menciptakan langit kelabu yang seakan permanen di Citatah.

Bagi sebagian besar warga, tambang bukan sekadar pekerjaan melainkan satu-satunya penghidupan.

“Kami paham polusi makin parah, tapi kalau pabrik tutup, kami kerja apa?” ujar Enjang (52), warga Desa Citatah, Rabu (10/12/2025).

Selama tiga dekade, Enjang menggantungkan hidupnya pada tambang dan pabrik. Ia menjadi buruh sejak muda, bukan karena pilihan, melainkan karena tak ada lapangan kerja lain.

Baca Juga:ICF 2025 Gaungkan Pelestarian Tebing Citatah 125Danau Bekas Tambang di Citatah KBB Renggut Nyawa Bocah 11 Tahun

“Saya kerja di sini dari muda. Kalau tambang berhenti, di kampung ini hampir semua laki-laki hidup dari batu,” ujarnya.

Inilah realitas yang tak bisa dipungkiri, tambang dan pabrik adalah tulang punggung ekonomi lokal. Penutupan total akan meninggalkan lubang pengangguran yang jauh lebih besar daripada lubang tambangnya sendiri.

0 Komentar