ICF 2025 Gaungkan Pelestarian Tebing Citatah 125

ICF 2025 Gaungkan Pelestarian Tebing Citatah 125
Aksi para pemanjat saat mengikuti kompetisi Indonesia Climbing Festival 2025 di Tebing 125 Citatah. Minggu (16/11). Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

Dalam diskusi yang digelar di arena festival, Hasan Kholilurrachman dari National Geographic Indonesia menegaskan bahwa kawasan Citatah 125 kini memasuki fase kritis.

Ia menyebut kawasan karst Citatah masuk era antroposen masa ketika dampak aktivitas manusia lebih dominan daripada proses alam.

“Karst Citatah berperan penting menjaga cadangan air dan keseimbangan ekosistem. Namun bukit-bukit di sekitarnya perlahan hilang ditambang. Merawat Citatah 125 berarti membangun kesadaran bahwa bumi tak perlu lagi dikorbankan,” jelas Hasan.

Baca Juga:Percepat Evakuasi Korban Longsor Cibeunying Cilacap, Pemprov Jateng Datangkan Tambahan Alat Berat20 Warga Masih Hilang, Pemprov Jateng Fokuskan Pencarian Korban Longsor Cilacap

“Ekosistem panjat tebing di Citatah harus tumbuh secara inklusif, aman, dan berkelanjutan agar tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” sambungnya.

Wakil Ketua I ICF 2025, Tantan Rustandi, mengatakan respons komunitas tahun ini melebihi ekspektasi. ICF 2025 bukan hanya perlombaan, tetapi juga ruang berkumpulnya komunitas panjat lintas generasi.

“Antusias tinggi. Banyak pemanjat dari luar Jawa yang hadir. Kegiatan kita variatif, mulai dari climbing challenge di berbagai kategori, pemutaran video, hingga awarding. Intinya, kita ingin menyambungkan lintas komunitas, junior dan senior,” ujarnya.

Berbagai kategori lomba yang dipertandingkan antara lain, Climbing Enduro Putra/Putri (Umum), Climbing Enduro Mapala (Top Rope), Ascending (Tim Mapala atau Sispala), Boulder Pemula Putra/Putri (Nonatlet), Flash Challenge Putra/Putri (Umum), Speed Climbing Putra/Putri (Umum), Rock Master Mapala atau Tim (50 Up)

Selain kompetisi, salah satu atraksi yang menyita perhatian publik adalah pertunjukan tari tebing oleh tiga penari yang menampilkan gerakan akrobatik di ketinggian sekitar 30 meter.

Tantan menyebut konsep ini sebagai kolaborasi unik antara olahraga ekstrem dan kesenian.

“Ini mungkin yang pertama kali di Indonesia. Kami ingin menunjukkan bahwa panjat tebing bisa menjadi platform yang mempersatukan olahraga, seni, dan budaya,” katanya.

Baca Juga:Tingkatkan Komoditas Ekspor, Kementan Diminta Kembangkan Varietas Unggul Tanaman Lada Babel Buka Peluang Baru, Pemerataan Infrastruktur Digital Jadi Fondasi Kedaulatan Ekonomi Nasional

Ditempat yang sama Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Tom Maskun, menilai olahraga panjat tebing memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata alam. Terlebih, Citatah berada di kawasan karst yang memiliki nilai geologi, budaya, sekaligus ekonomi.

“Selain menjadi daya tarik masyarakat, kegiatan ini sekaligus mengingatkan kita untuk menjaga keaslian alam di sini. Ini harus dijaga,” kata Tom.

0 Komentar