Cerita Siswi Pramuka Peduli Siap Hadapi Bencana: Ini Panggilan Hati

Cerita Siswi Pramuka Peduli Siap Hadapi Bencana: Ini Panggilan Hati
Cerita Siswi Pramuka Peduli Siap Hadapi Bencana: Ini Panggilan Hati. (Mong/Jabsr Ekspres)
0 Komentar

Salah satu pembina lainnya, Sandrina, menyoroti tantangan membina anak-anak muda di era digital.

“Anak zaman sekarang itu beda. Mereka tumbuh dengan gadget, jadi kita enggak bisa pakai cara didikan lama,” ujarnya.

Menurut Sandrina, pembina harus mampu memahami dunia mereka terlebih dahulu.

“Kita harus masuk ke dunia mereka dulu, baru mereka mau mendengarkan. Kalau langsung dilarang tanpa pendekatan, mereka malah menutup diri,” katanya.

Baca Juga:Canangkan Angkutan Tambang Dibawa Kereta, Pemkab Bogor Sebut Agar Tak Bebani Jalan RayaPemerintah Klaim Angka Pengangguran Turun Signifikan pada Agustus 2025, Benarkah? 

Pendekatan seperti inilah yang membuat hubungan antara pembina dan anggota menjadi lebih erat, membentuk rasa saling percaya yang penting di medan bencana.

Pramuka Peduli Kwarcab Cimahi bukan tim baru di dunia kebencanaan. Sandrina menyebut mereka sudah banyak terlibat dalam berbagai operasi kemanusiaan.

“Dulu kakak-kakak kita pernah turun ke Lombok, Palu, Jawa Timur, terus waktu gempa Cianjur dan longsor di Sumedang juga kita ikut. Bahkan yang di Cipongkor dan Kertasari, Cimahi juga kita terlibat,” katanya dengan bangga.

Kini jumlah anggota Pramuka Peduli Cimahi mencapai 61 orang, gabungan dari berbagai sekolah menengah. Mereka rutin berlatih kesiapsiagaan bencana, evakuasi, pertolongan pertama, hingga manajemen dapur umum.

Di tengah ancaman cuaca ekstrem yang kian meningkat, keberadaan para relawan muda seperti Cathleya menjadi wajah lain dari ketangguhan Kota Cimahi.

Mereka bukan sekadar simbol semangat kepanduan, tapi wujud nyata empati generasi muda yang siap berbuat untuk sesama. (Mong)

0 Komentar