Cerita Siswi Pramuka Peduli Siap Hadapi Bencana: Ini Panggilan Hati

Cerita Siswi Pramuka Peduli Siap Hadapi Bencana: Ini Panggilan Hati
Cerita Siswi Pramuka Peduli Siap Hadapi Bencana: Ini Panggilan Hati. (Mong/Jabsr Ekspres)
0 Komentar

Cathleya menjelaskan, untuk bisa masuk dalam Pramuka Peduli tidak hanya soal pendaftaran administratif, tapi juga kesiapan mental dan fisik.

“Seleksinya itu lebih ke niat dan seleksi alam. Karena ini bukan sekadar kegiatan seru-seruan. Setelah dilantik, kita akan menghadapi situasi di mana tanggung jawabnya bukan cuma nyawa sendiri, tapi juga nyawa orang lain,” ujarnya dengan nada tegas.

Ia bercerita tentang pengalaman seleksinya yang berlangsung selama tiga hari dua malam.

Baca Juga:Canangkan Angkutan Tambang Dibawa Kereta, Pemkab Bogor Sebut Agar Tak Bebani Jalan RayaPemerintah Klaim Angka Pengangguran Turun Signifikan pada Agustus 2025, Benarkah? 

“Kita jalan tanpa handphone, tanpa alat komunikasi pribadi. Satu tim terdiri dari 12 orang, dan cuma ada dua HT buat koordinasi. Kita harus mencari jalan sendiri pakai peta dan kompas, berdasarkan materi yang sudah dipelajari sebelumnya,” kenangnya.

Menurutnya, pengalaman itu menjadi momen pembentukan karakter.

“Dari situ kita belajar bagaimana teori bisa diterapkan di lapangan. Itu benar-benar latihan mental dan fisik,” tambahnya.

Cathleya menutup perbincangan dengan kalimat yang sederhana namun penuh makna.

“Buat saya, ini bukan cuma kegiatan. Ini panggilan hati. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?” katanya dengan suara lembut tapi yakin.

Kisah Cathleya juga tidak lepas dari peran para pembina di Pramuka Peduli Kwarcab Cimahi. Salah satunya Sabtari Deka (27), staf cabang bidang Pengabdian Masyarakat (Abdimas).

“Kalau untuk membina adik-adik, terutama perempuan, saya selalu tegaskan bahwa mereka harus punya mental kuat. Karena perempuan itu biasanya lebih sensitif. Tapi dalam penanggulangan bencana, kita harus sigap menghadapi situasi apa pun,” ujar Sabtari lembut namun tegas.

Ia menambahkan, pembinaan dilakukan dengan prinsip kesiapan diri. Katanya, kalau tidak sanggup, lebih baik mundur dari awal daripada nanti dipaksakan di lapangan.

“Kita sering bilang, jangan sampai tim rescue justru harus di-rescue,” katanya sambil tersenyum tipis.

Baca Juga:Program Speling Efektif untuk Skrining Penderita Tuberkulosis di Jawa TengahMenkeu Purbaya Bakal Legalkan Rokok Ilegal Mulai Desember: Saya Tidak Mau Rugi!

Perempuan dalam tim, lanjutnya, biasanya bertugas di bagian dapur umum dan logistik, mendukung operasional para relawan di lapangan.

“Tapi bukan berarti peran mereka kecil. Justru tanpa logistik dan dapur, tim di lapangan tidak bisa bertahan lama,” jelasnya.

0 Komentar