“Walaupun masih pelajar, karya mereka pantas diapresiasi di level internasional. Kami ingin menanamkan bahwa mereka kelak akan menjadi pemimpin bangsa. Jika sejak dini sudah terjalin persahabatan lintas negara, maka di masa depan akan lahir kemajuan dan perdamaian bersama,” jelasnya.
Ia menegaskan, antologi “Dari Sahabat” merupakan edisi pertama dari rangkaian kerja sama sastra antara kedua negara. Pada tahun 2026, kolaborasi akan diperluas dengan melibatkan lebih banyak lembaga pendidikan dari Indonesia dan Malaysia, termasuk perguruan tinggi.
“Saya juga mendengar beberapa universitas sudah tertarik bergabung sebagai bagian dari pengembangan keterampilan berbahasa mahasiswa dan dosen,” tutupnya.
Baca Juga:Nekat Loncat dari Lantai Enam, Staf Tendik Universitas Widyatama Diduga Alami Tekanan KerjaBeli Piyikan Pandu Jaya Bisa Dapat Motor Beat Baru, Kok Bisa? Ini Syaratnya
Sementara itu, Rektor Universitas Pasundan (Unpas), Azhar Affandi, turut memberikan apresiasi atas kolaborasi tersebut. Ia menilai kegiatan tersebut tidak hanya menghasilkan karya sastra, tetapi juga memperkuat semangat kebangsaan dan persahabatan antarnegara.
“Bahasa kita serumpun, sehingga kolaborasi ini mampu melahirkan karya brilian yang bermanfaat bagi institusi maupun masyarakat,” ucap Azhar.
Menurut Azhar, keberhasilan tersebut juga mencerminkan peran nyata lulusan program studi Bahasa Indonesia yang bernaung di bawah Paguyuban Pasundan. Para alumni FKIP Universitas Pasundan, lanjutnya, kini banyak berkiprah di SMK-SMK Pasundan, termasuk di SMK Pasundan 3 Cimahi.
“Ide-ide seperti inilah yang mereka bawa dari kampus dan wujudkan di sekolah. Ini bukti nyata pengabdian akademisi terhadap pendidikan menengah,” jelasnya.
Azhar berharap kolaborasi semacam tersebut tidak berhenti pada satu karya saja. Ia mendorong agar sekolah terus berinovasi dengan gagasan dan karya baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Di era sekarang kita tidak boleh stagnan. Harus terus melakukan continuous improvement. Jadi, setelah kegiatan ini, jangan langsung puas. Mari kita cari lagi ide-ide baru yang bisa memberi manfaat bagi lembaga dan masyarakat,” pungkasnya.
Melalui “Dari Sahabat”, semangat kebersamaan dua negeri serumpun kembali mengalir dalam untaian kata. Puisi menjadi bahasa universal yang menyatukan rasa, memperkuat jalinan persahabatan, dan menegaskan, pendidikan dan kebudayaan mampu menjembatani perbedaan demi masa depan yang harmonis.
