JABAR EKSPRES – Keluarga Kar’an (64) dan Tati (61) setelah sekian lama berjuang di balik dinding bilik bambu yang lapuk kini bernafas lega.
Kepedulian sosial dari pengusaha Bandung, Hartono Soekwanto, mengubah takdir sebelas jiwa yang selama ini bertahan di dalam gubuk tak layak huni di Dusun Cibeureum, Desa Balokang, Kota Banjar, Jawa Barat.
Tergerak setelah membaca pemberitaan dan unggahan di media sosial tentang kondisi memprihatinkan keluarga tersebut, Hartono mendatangi langsung gubuk Tati.
Baca Juga:Warga Balokang Banjar Tuntut Transparansi, Mediasi Kecamatan Dijadwalkan Akhir OktoberKembali Disorot, Sidang Korupsi Tunjangan DPRD Banjar Jadi Ujian Konsistensi Penegakan Hukum
Ia tak kuasa menahan haru menyaksikan kondisi rumah berdinding bilik bambu dan beratap bocor yang hampir ambruk, menjadi tempat berteduh bagi tiga keluarga yang terdiri dari sebelas orang.
“Aduh Bapak, Ibu, saya khawatir melihat rumahnya. Izin saya bangunkan rumah ya. Sekarang lebih baik tinggal di kontrakan dulu sambil menunggu rumah selesai,” ujar Hartono kepada Kar’an.
Tak sekadar janji, pria dermawan itu langsung bertindak dengan menyewakan sebuah tempat tinggal sementara (kontrakan) untuk keluarga tersebut, memastikan mereka memiliki tempat yang aman dan layak selama proses pembangunan rumah berlangsung.
Hartono berharap bantuannya dapat menjadi titik balik menuju kehidupan yang lebih baik bagi Kar’an, Tati, dan seluruh anggota keluarganya.
“Saya ingin menebar kebaikan. Semoga mereka bisa sukses dan suatu hari juga bisa membantu orang lain,” tuturnya.
Sebelum uluran tangan tiba, kehidupan sehari-hari keluarga ini adalah gambaran nyata dari jurang kemiskinan. Selama lebih dari tiga tahun, mereka menghuni gubuk reyot yang dibangun di atas tanah milik orang lain dengan material seadanya, kayu bekas dan anyaman bambu.
Di dalam ruangan sempit berukuran tak lebih dari 8×6 meter itu, sebelas jiwa harus hidup berdempetan, tidur di lantai tanah, dan bertahan dengan mengandalkan hasil pekarangan.
Baca Juga:RSU Banjar Patroman Perkuat Layanan Kesehatan dengan Gedung BaruSertifikat Elektronik Tanah di Kota Banjar Masih Rendah, Begini Kata Badan Pertanahan!
“Kadang kami hanya makan singkong. Kalau ada uang, beli beras. Kalau tidak, ya makan apa yang ada,” kisah Tati dengan suara lirih, menceritakan betapa pahitnya perjuangan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Rasa sedih selalu menyelimuti hatinya setiap kali melihat anak dan cucunya harus tumbuh dalam lingkungan serba kekurangan. Bantuan beras dari pemerintah yang sempat menjadi tumpuan, telah terputus beberapa bulan terakhir.
