Akar permasalahan keluarga ini berlapis. Ketidakpastian ekonomi menjadi momok menakutkan. Suami dan anak-anak Tati yang sudah dewasa hanya mengandalkan pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang sangat tidak menentu.
“Kerja serabutan, kalau ada yang nyuruh kerja apa saja,” ucap Tati.
Ia menggambarkan betapa rapuhnya fondasi perekonomian mereka. Ujian lain juga datang ketika anak bungsunya harus berhadapan dengan penyakit batu ginjal yang memerlukan operasi, meski untungnya biaya pengobatan dapat ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
Baca Juga:Warga Balokang Banjar Tuntut Transparansi, Mediasi Kecamatan Dijadwalkan Akhir OktoberKembali Disorot, Sidang Korupsi Tunjangan DPRD Banjar Jadi Ujian Konsistensi Penegakan Hukum
Kondisi memilukan ini juga menarik perhatian organisasi sosial Jabar Bergerak Kota Banjar. Ketua Jabar Bergerak Kota Banjar, Ari Faturrohman, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memfasilitasi program pembangunan rumah layak huni di atas tanah milik Tati.
“Kami bantu lewat program rumah tidak layak huni. Baznas memberikan Rp10 juta, dan kekurangannya sekitar Rp25 juta dibantu oleh seorang dermawan yang merupakan pengusaha dari Bandung,” pungkas Ari, mengonfirmasi peran Hartono dalam menutupi kekurangan biaya pembangunan. (CEP)
