“Rumah ibadah itu tempat berkumpul massa, jadi penting bagi para pengurusnya memahami bagaimana menjadi pengarah saat terjadi bencana, misalnya ketika salat Jumat atau kegiatan ibadah besar lainnya,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, kelompok ibu rumah tangga pun menjadi sasaran pelatihan penting. Menurut Fithriandy, perempuan memiliki peran sentral dalam menyelamatkan keluarga ketika bencana datang secara tiba-tiba.
“Ibu-ibu ini kan sering berada di rumah. Diharapkan mereka bisa tahu bagaimana cara menyelamatkan diri, melakukan evakuasi mandiri, dan membantu anggota keluarga lainnya,” ungkapnya.
Baca Juga:Pangkas Dana Transfer Daerah, Pakar Unpad Peringatkan Potensi KetimpanganYayasan Kasih Palestina Siap Bangun Kembali Masjid Istiqlal Indonesia di Gaza
Selain memperkuat sumber daya manusia di tingkat akar rumput, BPBD Cimahi juga tengah menyiapkan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) yang akan dipasang di sejumlah titik rawan banjir dan longsor.
Menariknya, sistem ini dirancang agar bisa terintegrasi dengan perangkat teknologi masyarakat, seperti handphone dan televisi digital.
“Ini tentu saja akan sangat membantu masyarakat ketika alat early warning system ini bisa terintegrasi dengan handphone, apalagi dimanapun. Tentu bisa meminimalisir hal-hal yang tidak diharapkan,” jelas Fithriandy.
Ia menambahkan, rencana tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga “golden time” keselamatan, yaitu waktu emas bagi masyarakat untuk segera melakukan evakuasi mandiri sebelum bencana terjadi.
“Dengan genggaman pun masyarakat bisa tahu informasi terkini karena langsung terhubung dengan sistem data peringatan dini kami,” tandasnya. (Mong)
