JABAR EKSPRES — Kualitas air di Kota Cimahi kini berada dalam kondisi memprihatinkan dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Dalam tiga tahun terakhir, hasil pemantauan menunjukkan, lima sungai utama di Cimahi, Cibeureum, Cibaligo, Cihaur, Cimahi, dan Cisangkan, telah berada dalam status tidak sehat, dengan tingkat pencemaran yang terus meningkat setiap tahunnya.
Ironisnya, pencemaran tersebut kini bukan lagi didominasi oleh limbah industri, melainkan oleh limbah domestik rumah tangga dan peternakan yang langsung mengalir ke sungai tanpa proses pengolahan terlebih dahulu.
Baca Juga:Cimahi Tantang Birokrasi Lama, SPBE Jadi Senjata BaruTingkatkan Minat Baca pada Anak, Inilah Strategi DWP Cimahi Bangun Budaya Membaca Lewat Peran Keluarga
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), air di Kota Cimahi saat ini masuk kategori tercemar berat. Hal ini terlihat dari penurunan drastis Indeks Kualitas Air (IKA) dalam tiga tahun terakhir.
Pada tahun 2022, Cimahi masih mencatat skor 34,58—lebih baik dibanding Kota Bekasi yang berada di angka 28,39.
Namun, pada 2023 angka tersebut turun menjadi 22,5 dan anjlok hingga 14,76 pada tahun 2024 dengan status merah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Cimahi tengah berada dalam situasi darurat lingkungan.
Menanggapi situasi tersebut, Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menegaskan bahwa pemerintah telah mengambil langkah konkret melalui pembentukan tim khusus pembersih sungai yang disebut “Tim Kecebong”.
“Ya, kita sudah punya tim khusus yang membersihkan sungai-sungai yang ada di kota ini. Mereka tidak mengenal hari libur,” ungkap Ngatiyana saat diwawancarai Jabar Ekspres di Kelurahan Cibeureum, Senin (6/10/2025).
Ngatiyana menjelaskan, tim ini bertugas rutin di lapangan untuk memastikan tidak ada penumpukan sampah atau pencemaran baru di aliran sungai.
Baca Juga:Tingkat Gemar Membaca di Cimahi Naik Signifikan, Disarda Dorong Literasi Berbasis KeluargaProyek 25 Ruas Saluran Drainase di Cimahi Telan Anggaran Rp7 Miliar, DPUPR Klaim Tuntas November 2025
“Tim kecebong selalu ada di tempat dan selalu bertugas di sungai-sungai apabila ditemukan kotoran atau sampah,” lanjutnya.
Meski demikian, Ngatiyana menekankan keberadaan tim ini tidak akan efektif tanpa partisipasi masyarakat. Ia mengimbau seluruh warga Cimahi untuk meningkatkan kesadaran lingkungan, khususnya dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
“Walaupun sudah ada petugasnya, tolong kita bersama-sama menjaga lingkungan Kota Cimahi ini. Kalau kita menjaga alam, berarti kita ikut menjaga keselamatan kita,” ujarnya.
Selain pengawasan sungai, pemerintah juga terus mendorong pengolahan sampah dan air bersih melalui PDAM Tirta Raharja serta Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang dikelola oleh Pemerintah Kota Cimahi.
