JABAR EKSPRES – Direktur Eksekutif Idham Chalid Institute, Mohamad Grandy menyebut kegagalan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) masuk parlemen sebagai aib terbesar sepanjang sejarah partai. Hal itu disampaikan Grandy menjelang Muktamar yang akan digelar akhir September nanti.
Direktur sekaligus cucu dari K.H. Idham Chalid deklarator PPP yang juga merupakan Mantan Ketua MPR/DPR di awal era Orde Baru tersebut menyebut, Pemilu 2024, yang membuat PPP gagal menembus ambang batas parlemen, adalah tamparan politik paling keras sejak partai ini berdiri.
“Kita harus jujur. Kegagalan PPP masuk parlemen adalah aib terbesar sepanjang sejarah partai ini. Ini bukan sekadar angka. Ini adalah sinyal keras dari umat bahwa PPP sudah melenceng jauh dari khitah perjuangan. Dan di bawah kepemimpinan Mardiyono, bukannya bangkit, justru partai semakin terpuruk. Fakta ini tidak bisa ditutup-tutupi dengan retorika,” tegasnya.
Baca Juga:Latihan Kepemimpinan PPP, Modal Bangkit dari Ketiadaan Kursi di ParlemenTak Penuhi Ambang Batas, 10 Parpol Ini Tak Lolos Parlemen
Bahkan menurutnya, Pelaksana Tugas Ketua Umum PPP, Mardiyono, seharusnya menjadikan kegagalan ini sebagai momentum untuk muhasabah, bukan justru berambisi mempertahankan jabatan. Ia menegaskan bahwa selama puluhan tahun di Era K.H. Idham Chalid, PPP berhasil melewati berbagai tekanan dan tantangan. Terutama tekanan pada Pemilu di Era Order baru.
“Saya ingin bicara terang-terangan: Mardiyono harus tahu diri. Ia memimpin PPP dalam periode yang menentukan, namun gagal total. Bukannya menyatukan kader dan menggalang simpati publik, justru PPP semakin tercerai-berai, kehilangan identitas, dan ditinggalkan basis konstituennya. Ini fakta yang tidak terbantahkan,” lanjutnya.
Grandy menilai bahwa selama kepemimpinan Mardiyono, arah politik PPP tidak jelas. Koalisi yang dibangun tidak strategis dan sangat jauh dari apa yang diharapkan oleh basis masa PPP, mesin partai tidak bekerja optimal, dan figur-figur yang seharusnya menjadi perekat umat malah tersingkir dari posisi pengaruh.
“Bagaimana mungkin seorang yang memimpin saat PPP gagal masuk parlemen masih memiliki keberanian untuk mencalonkan diri lagi? Ini seperti nakhoda kapal yang menabrakkan kapalnya ke karang, lalu minta diberi kapal baru. Ini logika yang mencederai akal sehat dan merendahkan martabat partai,” ujarnya dengan nada keras.
