KBA Mitra Dago Peduli Nyaah Ka Bumi Menginspirasi Griya Caraka Kelola Sampah Berbasis Masyarakat

Kampung Berseri
Pelopor Kampung Berseri Astra (KBA) Mitra Dago Peduli Nyaah ka Bumi  RW 11, Antapani Wetan, Kota Bandung, , Fentiani, saat menjelaskan pengelolaan sampah berbasis masyarakat kepada warga Perumahan Griya Caraka, yang melakukan kunjungan studi banding pada Senin, 22 September 2025. 
0 Komentar

BANDUNG – Kampung Berseri Astra (KBA) Mitra Dago Peduli Nyaah Ka Bumi, RW 11, Kelurahan Antapani Wetan, Kecamatan Antapani, Kota Bandung, menjadi contoh unggul dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Keberhasilan ini menarik perhatian warga Perumahan Griya Caraka, RW 05, Cisaranten Indah, Kecamatan Arcamanik, yang melakukan kunjungan studi banding pada Senin, 22 September 2025.

Pelopor KBA Mitra Dago Peduli Nyaah ka Bumi, Fentiani, memaparkan kunci sukses program ini karena dibangun secara kesistemen. Sistem ini terbangun dari 3 tiga pilar utama: People, Process, dan Technology, yang menjadi fondasi kokoh dalam untuk menjaga keberlanjutan program ini..

Fentiani menegaskan bahwa keterlibatan warga adalah inti dari keberhasilan program pengelolaan sampah di lingkungan RW 11. “Tanpa komitmen warga, program ini tidak akan berjalan,” ujarnya.

Baca Juga:Konflik Lahan Pangalengan: Petani vs Program Penanaman TNI-PTPNOne Ride 2025: Lebarannya Bikers Royald Enfield di Bandung

Sistem ini kata Fentiani, membutuhkan peran elemen masyarakat. Di antaranya sosok pemimpin seperti Ketua RW untuk memastikan adanya alokasi sumber daya untuk program dan pembuatan aturan-aturan yang mendukung. Kemudian perlu adanya penggerak yang menggerakan program dan menjaga program terus berlanjut. Perlu juga keterlibatan pengurus RW/RT untuk mengintegrasikan program ke dalam rutinitas kegiatan lingkungan RW.

Pihaknya kata dia juga membentuk agen perubahan di setiap RT dengan jumlah minimal 1 orang per RT, di mana ada lima RT di RW 11 Mitra Dago. Peran agen perubahan tersebut yang utama adalah memberikan contoh teladan perilaku pengelolaan sampah yang benar, memberi edukasi yang terus menerus terhadap warga di RT yang bersangkiutan serta melakukan evaluasi terhadap perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.

Setelah komponen pimpinan dalam hal ini ketua RW, penggerak dan agen perubahan siap, maka mulailah dilakukan edukasi dan sosialisasi kepada warga yang akan melakukan pemilahan sampah. Pendekatan yang dilakukan adalah edukatif, persiuasif, dan apresiatif serta masiv lewat berbagai jalur seperti arisan, pengajian, kumpul warga.

Petugas pengelola sampah yang berjumlah dua orang juga sangat penting untuk diedukasi agar bisa bekerja sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang selaras dengan visi program.

Agar seluruh komponen people (orang) bisa bekerja secara efektif, dibuatlah organisasi rapi dengan pembagian tugas yang jelas. “Manusia adalah tantangan terbesar karena memiliki emosi dan latar belakang yang beragam,” ungkap Fentiani.

0 Komentar