Kemudian pilar process. Pilar process menurut Fentiani menjadi sekumpulan aktivitas, prosedur untuk menjamin tercapainya tujuan bersama. Proses ini memiliki banyak manfaat diantaranya menjamin kegiatan jadi efisien, konsisten, menjamin kualitas, mengurangi resiko dan untuk memenuhi standar kualitas yang hasil diharapkan.
Pendekatan ini mencakup: Pertama, Plan-Do-Check-Action (PDCA), sebuah metode untuk merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan menyempurnakan program secara berkelanjutan. Kedua, SOP yang dirancang untuk memastikan hasil pekerjaan sesuai dengan standard kualitas yang diharapkan.
Ketiga, komunikasi efektif untuk mengedukasi warga tentang pentingnya pemilahan sampah dan bagimanana cara mengelola sampah yang benar dari sumber (rumah). Keempat, learning (pembelajaran). Pembelajaran berkelanjutan untuk menumbuhan kreativitas, inovasi dan relevansi program. “Proses yang jelas membuat kerja lebih terarah, sementara pembelajaran berkelanjutan memastikan program tetap dinamis,” tegas Fentiani.
Baca Juga:Konflik Lahan Pangalengan: Petani vs Program Penanaman TNI-PTPNOne Ride 2025: Lebarannya Bikers Royald Enfield di Bandung
Dalam pilar technology, Kampung Berseri Astra (KBA) Mitra Dago Peduli Nyaah Ka Bumi mengadopsi pendekatan program KangPisMan,(Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan). Dalam rangka mengura ngi sampah, warga menggunakan zero waste kit, seperti snack bag, tisu kain, tas belanja, tumbler dan menyediakan cara belanja tanpa kemasan. Pemilahan dilakukan dengan menggunakan alat ember yang diberi label kategori sampah organik, non-organik, dan residu.
Sementara alat yang digunakan untuk mengolah sampah organik adalah biopori, bata terawang, open windrow dan diberikan langsung ke ternak. Sampah non-organik dikelola melalui bank sampah. Sampah residu (seperti plastik multilayer) diubah menjadi ecobrick. “Alat-alat dan metoda sederhana ini memudahkan pengelolaan sampah secara komunal, dan semua sampah dimanfaatkan tanpa sia-sia,” jelas Fentiani.
Pendekatan ini memungkinkan RW 11 bisa mengolah 100% sampah organiknya, dan hanya sampah residu saja yang dibuang ke TPS. Tantangan utama tetap pada faktor manusia. “Alat tidak punya emosi, tapi manusia punya pemikiran yang kompleks,” tambahnya.
Inspirasi bagi Griya Caraka
Keberhasilan KBA Mitra Dago Peduli Nyaah Ka Bumi menginspirasi warga Griya Caraka, RW 05, untuk menerapkan sistem serupa. Rifqi, Koordinator Seksi Kebersihan Lingkungan RW 05, mengapresiasi pengolahan sampah organik di KBA. “Sampah organik diolah menjadi kompos dan pakan ayam, sekaligus mencegah risiko kebakaran di TPS,” ujar Rifqi, di sela-sela kunjungan.
