VIRAL Istilah ‘Quiet Covering’ Dikalangan Gen Z, Ternyata ini Maknanya

ILUSTRASI Gen Z yang melakukan ‘Quiet Covering’ di dunia kerja. (freepik)
ILUSTRASI Gen Z yang melakukan ‘Quiet Covering’ di dunia kerja. (freepik)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Gen Z selalu memiliki istilah-istilah baru yang unik, dimana kadang maknanya tidak bisa ditebak dalam menggambarkan sebuah situasi dan kondisi. Seperti istilah baru yang saat ini sedang viral, yakni “quiet covering.” Terdengar hampir mirip dengan tren istilah viral sebelumnya yaitu quiet quitting.

Namun makna didalamnya ternyata sangat berbeda. Walau masih sama-sama menyoroti sebuah kondisi yang terjadi dalam lingkungan pekerjaan. Namun quiet covering lebih berpengaruh pada banyak hal.

Hal ini berdasarkan penelitian terbaru yang diungkap di majalah Forbes. Dampak dari quiet covering ini ternyata bisa memperngaruhi kesehatan mental karyawan, produktivitas kerja, kreativitas, hingga keterlibatan mereka di dunia kerja.

Baca Juga:Tiket Mulai Rp700.000 Bisa Nonton Langsung ENHYPEN, SUHO EXO Hingga ILLIT,  Cek  Infonya di SiniHUT KAI, Dapatkan Promo Tiket Murah Hanya Rp80.000 Untuk Semua Jurusan, Khusus di Tanggal ini

Dalam penelitian tersebut juga terungkap bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan “tatapan datar Gen Z” atau ekspresi wajah tanpa emosi yang sering dianggap sebagai tanda ketidaktertarikan, padahal sebenarnya menyimpan pesan yang lebih dalam.

Makna Istilah ‘Quiet Covering’

“Quiet covering” adalah kecenderungan yang dilakukan oleh karyawan untuk menyembunyikan aspek pribadi agar tidak dihakimi, terhindar dari stereotip, dan terlihat lebih profesional sehingga peluang promosi mereka meningkat.

Survei terbaru dari respondesn sebanyak 2.000 karyawan lintas industri menyebut “quiet covering” menjadi krisis diam-diam di dunia kerja.

Data survey tersebut menunjukkan bahwa ada lebih dari 58% karyawan mengaku menutupi kekurangan skill atau pengetahuan agar tidak dihakimi. Hampir setengahnya pura-pura paham padahal tidak.40% menghindari meminta bantuan meskipun tidak yakin mampu dengan pekerjaannya.

Fenomena “covering” pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Kenji Yoshino. Menyebutkan alasan orang melakukannya karena beberapa hal, diantaranya :

– Menjaga citra profesional- Mencari penerimaan sosial- Menghindari diskriminasi – Demi peluang promosi, kenaikan gaji, atau bonus – Meningkatkan penilaian kinerja tahunan – Menariknya, covering paling sering dilakukan kepada atasan senior atau manajer langsung

Dampak Quiet Covering

Penelitian Hu-X x Hi-Bob mengungkap ada beberapa dampak Quiet Covering yang dilakukan Gen Z, diantaranya :

Baca Juga:Polemik Wadah Makan MBG Mengandung Babi, BPOM Tak Kunjung Umumkan Hasil Uji LabIAPE 2025 Kembali Hadir di Bandung, Dukung Perkembangan Industri dan UMKM

1. Menyebabkan stres sedang hingga berat2. Mengurangi produktivitas 3. Menghambat karier 4. Menurunkan keterlibatan di tempat kerja 5. Mempengaruhi kehidupan di luar kerja 6. Membatasi kreativitas dan inovasi7. Menurunkan kinerja

0 Komentar